Home

Ujian Al-Quran

Leave a comment

Alhamdulillah, hampir empat tahun tinggal di Mesir. Haru rasanya mengikuti ujian yang insyaAllah jadi ujian terakhir. Ujian kali ini adalah ujian lisan, tak heran jika banyak mahasiswa terlihat pucat ketika dipaksa berhadapan langsung dengan penguji.

Yang menarik adalah pengujiku yang tergolong doktor masih muda. Namun demikian, nampaknya beliau ini sudah bisa dikatakan senior dalam keilmuan. Beliau adalah DR. Ahmad Ramadhan. Dosen pengajar qasas Al-Quran di tingkat satu. Beliau mengujiku dengan begitu santai, tak heran jika aku juga tak terlalu tegang. Apalagi beliau memberiku nilai mumtaz untuk pelajaran qasas tingkat satu dulu.

Ketika memasuki ruang ujian, beliau sudah memasang wajah ramah. Akupun merasa tersanjung dengan sambutan yang beliau berikan. Padahal aku baru saja diakali Dr. Zainal Abidin dengan pengulangan Manahij Mufassirin.

Singkat cerita, duktur memanggilku untuk diuji. Dengan sedikit basa-basi aku mengucap salam dan membuka percakapan. Dengan ini, paling tidak aku merasa siap untuk diuji. Oiya, aku juga sempat menceritakan pengalamanku belajar qasas dengan beliau. Lumayan, rasa sok akrab kujadikan senjata agar pertanyaanya tak terlalu berat.
Alhasil pertanyaan Al-Quran berhasil kujawab dengan baik. Tinggal materi tafsir surat Az-Zukhruf. Menariknya beliau hanya menanyakan beberapa soal saja termasuk diantaranya mufrodat ayat. Alhamdulillah jawabanku tak kekuar dari diktat ta’yin yang sebelumnya sudah dipelajari matang-matang. Kataba Allahu lana minan Najihin. Amin

Doanya ya! #wisudawan2013

Ujian Terakhir (Hadist)

1 Comment

Aku berharap inilah ujian terakhir. lho… memang kenyataannya ini ujian terakhir. Tapi maksudku tak sesempit itu, Aku berharap ini ujian terakhir ditingkat tiga dan selanjutnya aku bisa melanjutkan studi ditingkat akhir. Amin… Dengan begitu tuntas sudah delapan semester, kontrak sarjanaku dengan Al-Azhar. Selama ini memang aku tak mengalami hal “kurang mengenakkan” seperti yang dialami teman-teman yang lain. Harus mengalami penundaan beberapa tahun dan memperpanjang kontrak dengan Al-Azhar.

Ujian kali ini mempertaruhkan keyakinan. Materi yang sudah dipelajari ini harus kuulang dalam keadaan yang sangat tidak mendukung. Aku tengah sakit dan kehilangan konsentrasi. Jangankan untuk menghafal hadits, untuk sekedar membacanya pun aku butuh perjuangan yang tak mudah. Badan yang mengigil membuatku sulit melewati halaman demi halaman yang harus kubaca dan kupahami.

Sehari sebelum ujian memang sudah kurasakan demam yang tak tertahan. Makanya aku tak bisa berharap banyak selain yakin dengan apa yang Allah kehendaki. Memaksakn untuk tetap membaca juga sudah kulakukan tapi nyatanya hanya mengurangi waktu istirahat yang sebenarnya lebih aku butuhkan. Saat ini tubuhku sulit kuajak kompromi. Rasa lemasnya menuntuk aku untuk memanjakannya walau hanya dengan istirahat biasa.

Malam hari sebelum ujian aku paksakan untuk tidur lebih awal. Niatnya supaya bisa bangun lebih awal. dan.. Alhamdulillah aku bangun diwaktu yang masih sepi. Ini kesempatan baik untuk mengulang bacaan dan hafalan meski pusing tak juga hilang. Paling tidak aku bisa mengingat isi dari buku yang kupelajari. Sampai pagi menjelang aku masih bisa bertahan dengan kondisi tubuh yang tidak fit. Namun kehendak Allah memang luar biasa. Untuk materi sepuluh bab yang biasannya terasa berat, kali ini aku merasakan sebaliknya. Mudah sekali memahami sepuluh bab ini– padahal badanku sedang tidak sehat.

Kuasa Allah tak bisa diingkari, namun jika saja aku diizinkan mencari wasilahnya, kenapa aku merasa mudah mempelajari sepuluh bab materi hadits dalam keadaan sakit. Mungkin salah satunya adalah karena materinya yang sangat menarik. Tujuh diantara sepuluh bab yang dibahas isinya adalah tentang NIKAH. Mulai dari anjuran Rasulullah kepada pemuda-pemudi untuk mensegerakan menikah sampai pada pembahasan adab-adab pernikahan, salah satunya mengenai dosa seorang istri jika menolak -keinginan- suami untuk “tidur” bersamanya.

Aku dibuat tersenyum meski dalam kondisi tidak sehat. Yang lucu adalah ketika aku membayangkan membagi ilmu yang kupelajari ini kepada istriku kelak. Hmmm… Entah dari arah mana pikiran itu menyambar. Yang jelas aku menjadi termotivasi untuk memperdalam materi ini dan bukan karena ujian saja. Jauh dari itu aku ingin mengamalkannya untuk berumah tangga nanti. Bahasan tentang nikah ini memang selalu memancing semangat yang luar biasa sampai aku lupa dengan rasa sakit dan demam yang melanda, hmmm… Apalagi orangtuaku selalu memintaku untuk segera menyelesaikan kuliah dan segera pulang ke tanah air lalu ……… 🙂

Intinya, Alhamdulillah meski dalam kondisi yang kurang mendukung aku masih bisa mengisi soal ujian yang kurasa sesuai dengan apa ada didalam diktat. Semoga keyakinan ini berbuah manis dan aku bisa menyesuaikan antara rasa optimis dengan hasil yang sebenarnya terjadi. Semoga ujian kali ini tak perlu pengulangan lagi dutahun berikutnya…

Bulan depan masuk semester tujuh, tahun depan selesai strata satu, langsung ke tanah suci dan pulang ke tanah air, Amin…………… 🙂 (mohon doanya ya!)

Harus Lebih Bersyukur

Leave a comment

Sehat merupakan nikmat yang terkadang sulit disyukuri ataupun sekedar dinikmati. Karena terasa sebagai sesuatu yang semestinya ada dan dirasakan setiap manusia, terkadang keberadanya tidak dianggap sebagi sesuatu yang istimewa. Dengan kata lain, manusia sehat itu biasa, kalau sakit baru terasa beda. Padahal kesehatan itu benar-benar luar biasa manfaatnya.

Aku termasuk orang yang masih meganggap kesehatansebagai sesuatu yang biasa dan mestinya dirasakan setiap manusia. Sehingga kesehatan itu tak kuanggap sebagai sesuatu yang sangat berharga. Tapi, Alhamdulillah… Allah mengingatkanku dengan ujian yang begitu dahsyat. Aku kembali tersadar akan nikmat yang luar biasa ini, nikmat yang begitu besar. Nikmat sehat.

Sehari sebelum ujian terakhirku aku merasakan demam yang  tak tertahan. Bahkan aku nyaris tak sadar, padahal aku harus bersiap menjalani ujian terakhit termin ini. Aku sudah pasrah, apapun yang terjadi akan kuterima. Logika memberi penyataan yang menjatuhkan. Aku tak akan lulus madah terakhir ini karena kesiapan yang kosong dan kondisi kesehatan yang menurun.

Aku sendiri tak tahu apa penyebabnya. Tubuhku tiba-tiba lemas dan mengeluarkan keringat. Tak bisa berkonsentrasi– apalagi dengan materi hadits yang menuntut fokus yang sangat detail. Inilah ujian yang sebenarnya, ujian yang tak sekedar menuntut aku untuk bersabar, lebih dari itu aku harus mensyukuri nikmat sehat yang selama ini aku alami. Kuasa Allah memang tiada bandingan.

Fajar Penuh Tanya

2 Comments

Waktu ujian hanya tinggal beberapa jam saja, Aku dan temanku pergi ke Masjid untuk menguatkan hafalan. Berjalan ditengah lorong sempit yang disambut cerah berkabut hitam selepas keluar lorong. Pemandangan seperti inilah yang biasa dialami jika hendak keluar rumah. Maklum apartemen yang kami sewa membelakangi masjid Al-Azhar, sehingga perlu berputar arah untuk samapai disana. Atau bisa juga melalui lorong sempit sebagai alternatif pilihan kedua.

Sesampainya di masjid aku disuguhi pemandangan yang tak mengenakkan. Seorang pria paruh baya nampak sedang dipukuli oleh sekelompok pemuda yang sepertinya adalah mahasiswa yang ingin menghafal disana. Aku lantas bertanya pada seorang pemuda yang hanya berdiri tegak mengamati peristiwa itu. “Fii eh ya shadiqi?” dengan penuh rasa kaget aku bertanya tentang apa yang terjadi. Pemuda itu dengan tenang menjawab : “itu ada pencuri yang tertangkap tangan”.

Aku hanya terdiam kaku setelah megetahui kejadian itu. Aku benar-benar kaget, apalagi kulihat tangan si pencuri mengeluarkan darah akibat dipukuli.  Terus terang aku merasa iba dengan nasib pencuri yang belakangan kuketahui mengambil uang beberapa pound saja. Rasanya tak ada apa-apanya jika dibandingkan koruptor yang mengambil milyaran bahkan triliyunan uang milik bersama. Mungkin juga ia mencuri bukan karena rakus pada harta melainkan karena butuh untuk sesuap makan saja. Entahlah, beberapa spekulasi berputar dibenakku, terlebih ketika melihat ia sudah sangat renta dan berjalan terpapah. Ia tak bisa apa-apa.

Aku tak ingin menghukumi ia sebagai pencuri meski ia mengambil uang yang bukan miliknya. Bahkan salah seorang pemuda Mesir membisikan pendapatnya di telingaku. “Kasihan ya bapak itu, fukara sepertinya harus diperlakukan dengan sangat tidak wajar” aku mengiyakan dan memintanya menolong si “pencuri” yang diseret keluar masjid oleh gerombolan pemuda itu. Pemuda tadi nampak beristighfar dan langsung memboyong bapak yang dikerumuni para pemuda itu.

Uang yang bukan miliknya ia ambil. Ia bisa dikatakan pencuri. Tapi apakah itu juga bukan akibat dari kelalaian mereka yang sebenarnya  mampu membelikan makanan untuk kaum dhuafa. Bukankah Islam  tak rela membiarkan saudaranya yang kurang mampu kesulitan menacri rezeki sehingga berdampak mencuri?.

Pikirku kembali bercabang. Kalau saja zakat benar-benar efektif dikeluarkan dan disalurkan pada fakir miskin mungkin mungkin tak harusa ada pencurian karena alasan membutuhkan makanan lagi. Lantas pikiranku kembali terpancing, kenapa hukuman yang diterima si pencuri yang mengambil uang tak seberapa itu begitu berat? Tak sadar aku mengungkapkan pertanyaan itu pada salah seorang teman disampingku. Temanku dengan senyuman khasnya menjawab, “mungkin ini kifarat atas dosa yang ia lakukan untuk memperingan bebannya di akhirat nanti. Berbeda dengan koruptor yang mencuri limpahan harta, ia tinggal menikmati kehidupan dunia yang penuh tipudaya saja karena dia akirat tak ada kesempatan untuk menikmati hidup akibat siksaaan yang abadi. Wallahu a’lam”

Termenung dengan kejadian yang mebuatku bertanya-tanya, aku lantas berupaya mengalihkan pandanganku agar kembali terfokus pada buku yang sedari tadi kubiarkan begitu saja…

#Tafakkur, sesaat sebelum ujian tajwid

Ujian Kedelapan (Tashawwuf)

Leave a comment

Hari ini aku dipaksa menjadi seorang muthashowwif. Senang dengan pelajaran yang satu ini. Dulu waktu tahun pertama– tahun kedua juga, belajar tashawwuf akan penuh kebingungan. Aku selalu merasa bosan dengan kuliah yang berkutat dengan materi berkenaan dengan tashawwuf. Sampai pada akhirnya Allah anugerahkan rasa senang belajar tashawwuf.

Satu hal yang membuat saya kurang suka dengan pelajaran tashawwuf (dulu). Tidak sedikit ulama yang menolak keberadaanya karena dinilai mengada-ada. Bahkan cenderung dianggap sejalur dengan filsafat yang bisa menyesatkan. Belakangan aku diajak mendalaminya lagi dengan penyeimbangan materi yang membandingan beberapa ilmu dengan ilmu tashawwuf. Ternyata filsafat yang sejalur dengan tashawwuf bukan sembarang filsafat. Filsafat islami-lah yang dimaksud. Kenapa demikian? karena tashawwuf tidak melulu mengedepankan pemikiran gaya filsuf yang dengan enteng mengandalkan akal saja. Atau mungkin memukul rata tashawwuf dengan ilmu kalam yang tak lain adalah ilmu filsafat + retorika berpikir yang seperti “logis”.

Tashawwuf tak berarti menafikan peran akal. Tetapi menuntut kita berpikir dengan akal yang didasari kekuatan hati pada dalil nakli. Jadi bisa dipastikan akan selamat dengan tuntunan Al-Quran dan Sunnah yang menjadi landasannya. Keduanya juga menjadi Mashadir asliyyah yang melandasi tashawwuf itu sendiri.

Bagaimana dengan ujiannya? Karena aku sudah mulai senang bahkan tertantang untuk menguasainya, walhasil, aku tak terlalu sulit memahami materi ini. Ketika ujianpun aku dengan mudah memahami dan mengerjakan soal. Semoga Nilai yang dihasilkan juga menyenangkan seperti rasa senangku pada ilmunya. 🙂
#Girang dengan kondisi praselesai

Mohon tak bosan mendoakan kami yang sedang ujian ya para pembaca!  🙂
haturnuhun!

Ujian Ketujuh (Tajwid)

Leave a comment

Hari materi yang sangat menggembirakan, Tajwid. Rata-rata mahasisawa sudah mempelajari materi yang satu ini. Maklum saja materi yang berkaitan erat dengan Kitab suci Al-Quran ini menjadi pokok pelajaran hampir disetiap pesantren. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana peserta ujian dengan empuk melahap seluruh soal.

Materi yang diajarkan disini tidak jauh berbeda bahkan relatif sama dengan yang telah kupelajari selama di Indonesia. Hanya saja ada banyak poin tambahan seperti pada pembahasan “Alif Lam sukun” mungkin selama ini kita hanya mengenal pembagiannya alif lam qamariyyah dan alif lam syamsiyyah. Namun, disini diperinci dengan membagi kepada lima poin inti dan beberapa poin lanjutan.

Soal yang mencakup pemahan dan beberapa hafal definisi lengkap dengan contoh menjadi ciri khas tipe soal tajwid. Kendati demikian mudah-mudahan ini madah yang bisa menjadi syafaat atau bisa membantu nilai madah lain yang agak kurang.  Apalagi materi ini terbialang dekat kaitannya dengan madah asasi. Semoga dosen bertasammuh pada kami yang ghair nathiq bil arab.

Respon dosen yang sekaligus penulis buku tajwid, DR. Thariq Abdullah Diab juga sangat menarik. Ketika ujian beliau hanya berkeliling dan jarang menerima pertanyaan dari peserta. Hal ini menunjukkan bahwa soal ujian tak terlalu sulit dan cenderung bisa dijawab peserta dengan baik.

Semoga apa yang dipelajari sejak kecil sampai sekarang (Baca : Tajwid) ini bermanfaat. Paling tidak untuk mewujudkan cita-citaku membuat halaqah qiraat di masjid Al-Ihsan. Amin 🙂

Ujian Keenam (Tafsir Tahlili)

Leave a comment

Ujian yang sangat melelahkan. Bukan hanya karena madah asasi, tapi juga butuh kesabaran dalam memahami diktat yang semuanya mukarar. Dosen juga nampaknya tak mau bermain-main dengan materi ini, terlebih kami yang mengikuti ujian adalah mahasiswa yang telah memasuki konsentrasi khusus dibidang tafsir. Selain metodologi, hafalan pengetahuan mengenai surat-surat bahasan diktat juga harus difahami secara detail. Hal ini menjadi penunjang untuk menjadi Mufassir yang handal.

Empat soal yang dikeluarkan cukup menguras otak dan kesabaran. Hanya tiga jam waktu yang diberikan nampak terasa kurang. Keempat pertanyaan tersebut mewakili hampir setengah materi yang diberikan. Namun, Alhamdulillah… dengan penuh konsentrasi aku berusaha menjawab sebaik mungkin. Mudah-mudahan hasilnya memuaskan dan menggembirakan.

Rasanya pengalaman yang hampir sama juga dirasakan oleh kawan-kawanku satu fakultas. Mereka yang kuliah jurusan hadits juga mengerjakan soal yang bermuatan madah asasi. Berat memang, tampak dari raut wajah yang terlihat kurang cerah dari para peserta ujian usai melaksanakan tugas berat ini.

Ala kulli haal, kami selalu berharap yang terbaik dan berharap apa yang telah dipelajari bisa bermanfaat bagi ummat. Amin 🙂

Older Entries