Home

Senin ceria

Leave a comment

Terus menata diri menjadi pribadi yang lebih baik, perlahan mencoba untuk tak terlalu menghiraukan kicauan tak bermakna. Aku hanya ingin Ia ridha dengan apa yang ku lakukan. Wakafaa billaahi hasiibaa

Ranah 3 Warna

2 Comments

Ranah 3 Warna

Pantas jika Al-Quran memerintahkan manusia dalam wahyu pertamaNya, Bacalah! Banyak hal yang didapat dengan membaca. Salah satu diantaranya adalah semanagat hidup yang akhir-akhir ini banyak menyelinap dan menghilang dari badan tegap sekalipun. Padahal keberadaan semangat hidup sangat mendorong seseorang untuk bisa menikmati dan menghayati hidup. Ada banyak buku yang bisa dibaca guna memancing semangat hidup yang dimaksud.

Alhamdulillah, aku menghabiskan waktu seharian ini dengan sebuah buku karya Bang Ahmad Fuadi. Ranah 3 Warna. Melihat judulnya saja aku sudah sangat penasaran, paling tidak pertanyaa membabi buta muncul dibenakku. Apa saja isi ceritanya, siapa dan bagaimana kejadiannya. Benar saja, setelah kubaca dengan penuh rasa penasaran, buku ini banyak menginspirasi dan menambah kuat semangat hidupku.

Pada buku pertamanya, Negeri 5 Menara, Bang AF menceritakan gambaran kehidupan di pesantren. Aku sudah sangat respek dengan buku itu. Bahkan aku yang kebetulan hadir pada launching buku pertamanya di Al-Azhar-Jakarta langsung menyergap buku itu lengkap dengan tanda tangan penulis. Photo bareng juga tak aku lewatkan. Kebetulan saat itu ada banyak teman-teman yang ikut karena acara launcing buku juga bagian dari acara Silaturahmi Akbar Alumni Pondok Modern.  Bahkan dalam kesempatan itu hadir beberapa tokoh penting  seperti diungkapkan dalam novel tersebut. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, KH. Hasan Abdullah Sahal selaku pimpinan pondok modern Gontor. Duduk bersampingan bersama beliau, KH. Mahrus Amin, pimpinan pondok modern Daarun Najah dan KH. Hidayat Nur Wahid serta Menpora, DR.  Adhiyaksa Dhault. Aku bahagia bisa turut hadir ditengah tokoh nasional yang juga kebangga ummat seperti para pimpinan pesantren ini. Kebahagiaan itu semaki lengkap dengan suguhan istimewa karya salah satu putera terbaiknya, Bang Ahmad Fuadi (Negeri 5 Menara) yang juga sahabat dari pembimbing yang memberangkatku ke Mesir ini.

Buku itu sangat menarik dengan isi yang sangat kental nuansa kehidupan pesantren. Tidak berhenti disana, ternyata di buku keduanya ini (Ranah 3 Warna) Bang AF kembali mendeskripsikan nilai-nilai religi buah dari pengalamanny selam mondok di pondok madani seperti diceritakan dalam novel. Ia membawa misi dakwah sampai ke negeri yang ia pijak. Ranah 3 Warna menjadi medan dakwah yang ia sampaikan dalam bentuk karya yang digariskan pena. Beberapa negara menjadi latar cerita tersebut.

Buku ini sangat menginspirasi, jujur aku tak sedang promo atau sekadar memberikan testimoni. Lebih dari itu aku merasakan manfaat yang luar biasa. Terlebih dengan kesamaan kondisi yang sama-sama alumni pondok, lebih paranya lagi aku hanyalah jebolan pondok salaf / tradisional. Dengan kehadirannya, aku menjadi menemukan banyak hal dan perlahan menutupi prasangka banyak orang yang mengira bahwa lulusan pesantren hanyalah menguasai mushala lengkap dengan penghukuman “masa depan suram” alias madesu. Novel ini membantu menjelaskan bagaimana pendidikan pesantren seharusnya dibanggakan dengan penerapan nilai religi yang terkandung didalamnya.  Bahkan lebih terangnya lagi, disini mengisahkan seorang lulusan pondok yang sukses dengan segudang prestasi. Hal ini juga diharapkan bisa menjadi motivasi khususnya bagi kalangan santri  untuk selalu berhusnudhan dan selalu optimis dengan setiap tantangan masa depan.

Sunyi dalam Sepi

4 Comments

Hanya deskripsi dari sebuah perjalanaan hidup yang saat ini dirasa. Layaknya roda yang berputar, hidup tak selalu diatas– pun tak melulu dibawah. Gambaran warnanya bak pelangi yang dengan perbedaannya kian indah. Aku tak harus merasa kaget apalagi merasa aneh dengan keragaman yang dialami. Inilah hidup… Semakin tampak warna-warna berbeda semakin sedap dipandang.

Saat ini… Aku sendiri dalam sunyi tertutup sepi. “Sepertinya” berada pada puncak keterpurukan. Tapi, sebenarnya tidak demikian. Sepi tak berarti duka seperti sunyi yang tak berarti lara. Sendiri tak selemah buta. Aku tak akan berhenti bersyukur– bahkan inilah salah satu keindahan yang harus kusyukuri. Dengan keadaan ini aku merasa jauh lebih nyaman. Hati ini kian tenteram. Meski terkadang aku ingin menentang “nyaman” untuk sekedar melampiaskan kepuasan yang ditawarkan tipuan zaman.

Ah… Ini hanya dunia -yang sementara- tak kekal dan lapuk dimakan usia. Kalaupun ia masih berumur lama, akulah yang justru takkan sanggup mengimbanginya. Biar ini jadi ladang untuk menuai “keindahan” yang sebenarnya. Yang nyata dan kekal tanpa batasan seperti yang dijanjikan. Aku hanya ingin punya bekal yang cukup untuk sampai kesana– sampai pada “keindahan”  yang dicita.

Sekedar Menguatkan Tekad

6 Comments

Nampaknya peristiwa yang dulu pernah terjadi kini akan terulang kembali. Aku tak bisa berbuat banyak– inilah jalan yang harus kutempuh. Bahkan ego inilah yang perlahan mengantarkan pada ketenangan. Dengan begitu tak perlu ada rasa ragu dengan apa yang diyakini, pastikan ini jalan terbaik.

Pendidikan, alasan yang kuelu-elukan harus bisa menjawab apa yang selama ini mereka tunggu. Disamping itu, sederet target juga harus kupegang teguh. Aku akan terus berjalan, berpedoman setelah berpendirian. Biar orang terdekat yang membantuku berjalan meski tertatih.

Komitmenku untuk tidak memulai lebih dulu– akan terus kupegang. Meski berakibat tidak akan ada permulaan, namun aku lebih memilih menjeput “indah” itu pada waktu yang tepat. Tak usah kupersiapkan sedini mungkin. Apalagi bermain dengan sesuatu yang belum pasti. Bukan pula tanpa usaha, aku hanya tak ingin kendaliku dikendalikan.

Maaf jika tanya tak kujawab, sedih tak kuperdulikan. Sungguh ini adalah sebuah pilihan. Semoga ini menjadi perjalanan menuju firdausNya. Bekal menjemput “indah” yang diimpikan dan kesunyian yang kelak menyatukan. Dan aku… akan membahagiaan apa dan siapa yang ingin dan harus kubahagiakan.

#bukan untuk dibaca… 😀 (yakin.. hanya saya yang faham)

Hati Ini Semakin Tertaut

Leave a comment

Sudahlah,
Aku tak mungkin berharap lebih selama “ijab-qabul” belum kulakukan.
Biarlah Allah yang tahu kepada siapa hati ini merasa rindu…

Aku tahu apa yang harus kujalani, lebih dari sekedar membahagiakan. Mungkin “ia” berharap diperhatikan lebih– sampai sarapanpun ingin kuingatkan. Namun, aku selalu teringat mana yang hak bagiku. Meski terkadang hati ini ingin seperti orang lain yang hanya sekedar “berkawan” tetapi sudah sedemikian romantis. Tapi… aku tahu, bagaimana syariat menuntutku, bagaimana ia menjadi pedoman hidup. Tak semestinya melabuhkan sebuah kemesraan pada yang bukan sang empunya, dan yang berhak menerimanya.

Sudahlah,
Jika memang keberatan dengan sikapku, -dengan sangat egois- aku akan membiarkanmu menentukan pilihan. Ini jalan yang harus kutempuh, yang tak mungkin kutinggalkan hanya demi sebuah kata “perhatian”.

Sadarilah…
Memang aku yang harusnya sadar dengan keberadaanku. Siapa aku– siapa orang tuaku, bagaimana lingkunganku, darimana dan mau kemanakah aku… Aku jua yang harus tahu.

Ingatlah…
Tak banyak yang bisa kuperbuat selain menitipkan rasa ini pada Yang Maha Punya. Biarka Dia yang membinmbing alur hidup yang dijalani. Usah ragu dengan apa yang kita inginkan. Ia maha bijak memberi apa yang dibutuhkan.

Jika ragu dengan apa yang dipikirkan, berhentilah -atau usahakan- untuk yakin. Karena boleh jadi keraguan itu adalah bagian hidup yang sebenarnya keluar jalur sehingga tak bisa memastikan langkah selalu benar. Karena kebenaran itu menentramkan. Jika hati saja tidak membenarkan– masih meragukan, lalu apa yang sebenarnya terjadi. Jangan-jangan itu jalan yang salah, jalan yang selalu membuat ragu, menjadikan bimbang -tak pernah merasa nyaman- dengan keadaan. Selalu mempertanyakan kenapa? kenapa? dan kenapa?

Ketahuilah…
Jika Sang Pemilik hati meridhai, Ia akan biarkan hati ini terpatri. Terpaut pada aturan dan tuntunan.
Jangan biarkan hati ini menjadi ragu akan janjinya. Ath-Thayyibuun li ath thayyibaat….
(Ia ciptakan berpasang-pasangan…)

#Dan akan kubiarkan “rasa” ini mengalir… Tak akan kumulai sebelum aku benar-benar yakin.

Aku Rindu…

2 Comments

Sosok yang berwibawa dan penuh kharisma, aku rindu dibuatnya. Tak jarang aku merasa canggung, seperti pada orang lain. Menatap wajahmu saja aku harus memberanikan diri. Hingga kini aku benar-benar malu– padahal jika sudah mulai bicara engkau tampak seperti seorang sahabat yang senang berbagi. Aku benar-benar rindu…

Pribadi yang sayang suami dan mengabdi. Sesekali membantu bapak mengajar santri, salut! Aku tak banyak menginginkan sosok yang macam-macam untuk istriku kelak. Aku ingin yang seshalihah mamah. Adikku saja yang kuangap belum dewasa dengan teguh ia mengatakan bercita-cita ingin menjadai pribadi seperti mamah. Ya Allah, aku sangat merindukannya…

Bukti kasih tiga bidadari ini benar aku rasakan. Ketiganya tak henti membuat semangatku terus menggebu. Aku selalu menyempatkan berbicara meski dalam sebuah obrolan santai. Celotehmu membuatku beralasan untuk beralasan hidup dan tetap berkarya. Aa bangga pada kalian– Aa rindu kalian…

Banyolan khas yang membuat gelak tawa keluarga pecah– itulah sosok kakek yang semangatnya selalu muda. Sesekali beliau meminta buyut dariku– aku hanya melempar senyum sebagai bukti khidmat. Terimakasih untuk seluruh warisan termahal yang engkau berikan kek, hingga kehadiranku lengkap dengan sosok ibu bapak dan keluarga yang shalih-shalihah.

Nenek yang selalu meneteskan air mata kala aku mengukir cita. Inilah bukti doamu nek, aku kini sudah di bumi para Nabi. Aku selalu berharap doa tulusmu.Aku rindu nenek…

Mendiang kakek yang memotivasiku untuk menjadi ahli qiraat. Kalem-nya yang selalu aku rindukan. Kiai dengan segudang ilmu. Aku yakin bukan aku saja yang merindukanmu– disudut sana santri selalu berharap bisa kembali bersua di syurga-Nya. Allahummaghfirlahu warhamhu…

Aku juga tak akan melupakan sosok nenek dari bapak yang aku yakini selalu ada mendampingi langkahku– meski menatapnya pun aku tak pernah. Allahumaghfirlaha waj’alhaa min ahli al-firdaus. Amin.

Seluruh bibi dan pamanku yang dengan kehadiran kalian aku tetap bertahan. Kehadiran kalian mewarnai hidup ini menjadi lebih indah. Dari kalianlah lahir adik-adik kebanggaanku. Saudara yang tak tampak misan, penuh pengorbanan. Aku rindu kalian…

Guru-guruku yang dengan ilmunya aku bisa menjadi manusia. Aku tak tahu bagaimana membalas jasa setiap kata yang membuatku kembali ingin berkarya. Semoga Allah membalas perjuangan dan jasa-jasa baik yang diberikan. Aku rindu…

Keluarga besar yayasan– aku tak bisa menapikan peran kalian. Saudara-saudaraku yang berjuang keras untukNya. Para santri/ah yang dengan istiqamah menuntut ilmu dijalanNya.  Ibu bapak baruku di majlis ta’lim yang terus bertahan hingga usia senjanya. Dewan ta’mir masjid yang menjadikan islam tetap bergema di kampung kebangan kita. Allah-lah yang senantiasa bersama kalian.

Kamu yang mewarnai hari-hariku. Maaf untuk kata-kata terakhirku. Semoga kita sama-sama sukses– dengan fokus menjalani ujian kali ini. Kamu yang tetap maklum atas batasan Tuhan kita– semoga kita cepat halal. Kutitipkan rindu ini…

Sahabatku di tanah air. Aku terus memohon doa kalian. Semoga kita dipertemukan dengan keberhasilan seperti yang kita cita-citakan. Miss u all..

Bersama dengan ini aku titipkan rindu atas kalian. Yang tak bosan mendoakanku. Jazakumullah ahsanal jazaa….

Allahummaghfir lii dzunubii, wa liwaalidayya, wa liashaab al-hukuki al-waajibati ‘alayya, wa limasyaayikhina, wa lijamii’il muslimin wa al-muslimat– al-ahyaa-i minhum wal amwaat. Birahmatika Yaa Arhamar Raahimin. Aamiin…

Rindu yang kian terpatri

Kairo, 24 Mei 2012

Hamzan Musthofa.

Saya dan Lady Gaga

4 Comments

Ilustrasi : Saya dan Lady Gaga

Lady Gaga

Entah benar atau tidak, saya tak begitu mengikuti info yang beredar.  Kabarnya penyanyi luar  negeri itu diundang hadir di negara yang mayoritas muslim. Kontan, khalayak yang mengetahui cara ia tampil akan langsung menolak. Salah satu alasan penolakannya adalah sosoknya yang katanya “erotis” dan bergaya tidak sesuai dengan budaya ketimuran. Ya, mungkin saja ini terjadi. Walau bagaimanapun Indonesia banyak dihuni macan baik yang kapanpun bisa menerkam pengusiknya.

Secara pribadi, saya tak mau ambil pusing masalah ini– selama kondisinya memungkinkan. Segala sesuatunya  mungkin dilakukan. Misalnya meminta lady Gagap bernyanyi kasidah dan berbusana muslim, hmm. Mungkin? Barangkali saja ia dapat hidayah. atau gaya lain yang dinilai sopan.

Perlahan saya dan saudara muslim lainnya akan merasa terusik dengan kehadiran sosok yang muslimah pun bukan. Apalagi dia berpenampilan tidak sesuai dengan paham yang selama ini dianut bangsa Indonesia. Meski kecil, kami tetap punya prinsip, tolong hargai itu. Tak usah merasa paling modern. Kehadiran yang sangat tidak tepat! Tentu anda (baca : lady) salah memilih kondisi. Silakan saja mengadakan konser tapi tidak untuk saat ini dan tidak di Indonesia.

Saya

Nah… nah… kita curhat sebentar. 😀

Belakangan hal klasik yang kembali datang, sebut saja permasalahan. Saya yang hampir trauma dengan masalah seperti ini tentu tak mau terjebak dalam masalah yang sama. Yang karena terlalu gegabah mengambil sikap– akhirnya Gagal.

Oke biar lebih mudah diingat, kita ganti ya, sebut saja lady Gaga(L).

Nah lhooo… bingung kan! Maksudnya apa???  2 d point aja deh ya…

Baru-baru ini ada permasalahan perihal pertanyaan seseorang mengenai kesediaan saya untuk menikah. Jawabannya  apa kira-kira?

Tentu saya jawab tidak siap. Walaupun sebenarnya saya mau menikah, tapi saya sadar, saya belum mampu. Bukankah kemampuan itu sangat penting keberadaanya lebih dari sekedar kemauan? Bahkan dengan singkat saya menjawab, biar takdir yang menjawab dan semua akan indah pada waktunya.

Mungkin, bagi yang menanggapi dengan emosi atau dan tanpa ketulusan hati akan timbul banyak kecurigaan. Bisa saja mengatakan saya ini pecundang, atau paling tidak ia akan mendapati “saya” seorang yang malas mengusahakan hal semacam ini. atau paling sederhana mengira saya tidak serius.

Oke, tak masalah. Silakan berpendapat; dan saya tidak terlalu ambil pusing. Yang terpenting, saya tahu kadar kemampuan diri, sehingga dengan mudah merespon permasalahan yang sangat fundamental ini. Bagaimana tidak, saya tak boleh gegabah dengan sesuatu mengenai pernikahan. Ini tak bisa diputuskan sepihak, ini urusan menghalalkan yang haram, ini juga urusan masa depan.

Terlalu dini untuk menikah dengan ketidakmapanan. Kalaulah ini sebuah tawaran. Tentu akan ditolak secara halus. Satu kata– “waktu”. Ya waktunya yang tidak tepat. Anda bisa bayangkan, seorang laki-laki yang mapan sekalipun terkadang tak buru-buru memutuskan untuk menikah– apalagi saya yang belum mampu.

Korelasi antara Saya dan Lady Gaga

Keduanya hadir ditengah kondisi yang tidak tepat. Ruang maupun waktu yang tidak tepat. Mungkin waktunya yang terlalu cepat, mungkin juga tempatnya yang tidak pas, atau keduanya tidak sesuai.

Sekali lagi saya pertegas. Nikah bukan saja masalah mau. Ia perlu waktu… saya juga akan menikah, bahkan merencanakannya jauh-jauh hari. Tapi bukan sekarang dan dalam jangka waktu dekat ini. Pendidikan, salah satu alasan yang mudah-mudahan bisa dipahami. mari menanggapi secara dewasa. saya akui saya sering bergurau  perihal pernikahan. tapi dalam prakteknya, tak ada unsur main-main! ini masalah dunia dan akhirat.

Saya pahami, menundanya bukan persoalan yang mudah. tapi tak berarti harus buru-buru. Kendatipun dipaksa saya akan menolak sebijak mungkin. Kelak saya akan buktikan kalau “pendidikan” lebih saya pikirkan daripada hanya sebuah “pengharapan” yang belum pasti. Baik pendidikan maupun pernikahan, keduanya harus ditanggapi serius. Keduanya tak boleh main-main. Tapi setiap orang punya prioritas– yang terkadang (mungkin) tidak diketahui kecuali oleh yang empunya.

sekian dan terimakasih..
euleuh… itu yang baca meni serius gituh, hehehe!!

haha, tertipu.. :p

saat ia kembali hadir
Kairo, 17 Mei 2012

Hamzan Musthofa

Older Entries