Home

Nada Dakwah III

Leave a comment

Risalah Salam, agenda rutin yang biasa dilaksanakan di Istana Ghuri ini menjadi penampilan penutup dibulan Juni ini. Dihadiri oleh menteri kebudayaan Mesri  DR. Muhammad Shabir Arab, penampilan yang mengangkat tema “risalah salam haulal aalam”  ini berlangsung meriah. Beberapa lagu khas Mesir yang dilengkapi dengan penampilan tim nasyid Dai Nada yang menyanyikan beberapa lagu berbahasa Perancis, China dan German ini turut memancing tepuk tangan penonton.

DR. Inthesar Abdel Fatah sebagai direktur Istana Ghuri juga tampak antusias dengan penampilan kali ini. Bahkan sempat tercetus kabar untuk melaksanakan konser di Kanada. Hal ini juga nampaknya disambut baik oleh Mnteri Kebudayaan yang hadir pada kesempatan itu.

Disela-sela waktu istirahat setelah penampilan selesai, Pak Menteri didampingi beberapa tamu kehormatan menyempatkan diri untuk melihat beberapa ruangan yang berada di kawasan Istana Ghuri. Menteri yang menggantikan DR. Emad Abou Ghazi ini lebih antusias dengan kehadiran tim Nasyid Dai Nada. Beliau terlihat sangat kagum dengan keberhasilan Dai Nada membawakan beberapa lagu berbahasa asing. Semakin terharu setelah mengetahui bahwa semua anggotanya berstatus mahasiswa di Universitas Al-Azhar, Kairo.

Kndati penampilan ini terbilang sukses ,namun, DR, Inteshar tentu mengharapkan yang lebih baik di event mendatang yang diharapkan bisa mempromosikan khasanah kebudayaan Mesir.

Peringatan wafatnya Pope Shenouda III

Leave a comment

يوم الاحد الموفق بالتاريخ 29 من شهر ابريل 2012 شارك في البرنامج الجامد فرقة اندونيسيا للإنشاد وهي نور مع داعي الندى و فرقة سماع للإنشاد الصوفي وفرقة الترانيم والألحان القبطية، وفرقة أكابيلا للترانيم الكنائسية تحت قيادة د/ انتصار عبدالفتاح، رئيس مركز قبة الغوري بمناسبة ذكري الأربعين علي نياحة البابا شنودة الثالث. حضر فيها الشماس انطون ابراهيم عيادالفنان القبطية الذي يغني من الأغاني   البابا شنودة الثالث “يارب عام قد مضي وأقبل العام الجديد” وكذلك تم تقديم مجموعة من الأغاني منها المجد لله في الأعالي، مولاي، صلاة وسلام علي الأنبياء، سبحوا، قمر، يارب عام قد مضي وأقبل العام الجديد، مريم العذراء، نور النبي، يالله، طالما أشكوا غرامي يا نور الوجود، قمر الليالي نبينا يا غالي، مصر التي في خاطري، إسلمي يا مصر إنك الفدا، قوم يا مصري مصر دائما بتناديك

ذكري الأربعين علي نياحة البابا شنودة الثالث

Dai Nada Nasyid kembali turut serta dalam peringatan wafatnya Baba Shenouda III, Baba Iskandariyyah, pimpinan jemaat Kristen Koptik. Penampilan yang rutin digelar di Qansuh el Ghouri di bilangan Darrasahini, pada tanggal 29 April kemarin dikhususkan dalam memperingati wafatnya Baba. Dai Nada yang berkolaborasi dengan tim Samaa’ dibawah asuhan DR. Intishar Abdel Fatah, lengkap dengan kolaborasi tim Acapella dari Cairo Opera House dan pelantun syair Gereja yang pada kesempatan ini dipimpin langsung oleh pelayan kenamaan, Antom Ibrahim Ayyad. Dalam kesempatan ini hadir pula perwakilan kedutaan besar Republik Indonesia, Bapak Amir Syarifuddin.

Selain sebagai momentum untuk memperingati kepergian sang Baba, hal ini juga menjadi salah satu wujud kerukunan antar ummat beragama , khususnya di Mesir.  Kolaborasi dilakukan dengan meriah, masing-masing membawakan lagu-lagu yang biasa dibawakan pada acara Risalah salam, tambahannya, Anton bersama kawan-kawan Ummat Kristen Koptik yang tengah berduka, membawakan salah satu syair yang diciptakan oleh Baba Shenouda III, yaitu Yaa Rabbu  ‘Aamun Qad Maadho. kegiatan semacam ini dimaksudkan demi terciptanya Mesir yang aman dengan cerminan kerukunan antar ummat beragama.

Ke Luar Negeri karena Hobi

Leave a comment

5 Februari 2012 pergi ke kedubes Jerman di kawasan Zamalek, bukan tidak sengaja, kali ini memang saya punya kepentingan, ya, mengurus visa untuk berangkat kesana (baca : Jerman). Ironi, bahkan secara pribadi saya tidak pernah membayangkan akan mendapat kesempatan kesana. Hanya saja semasa SMA dulu ada keinginan melanjutkan studi kesana, sadar kemampuan dan beratnya biaya yang harus dikeluarkan jadi alasan terkuburnya keinginan tersebut, padahal Allah Maha Kuasa yang dengan Kun Fayakun-Nya hari itu juga saya bisa diberangkatkan. Astaghfirullah, semoga ini bukan tanda hilangnya kepercayaan hamba padaMu, tetapi lebih pda jalannya nalar yang seolah condong pada kinerja yang realistis.

Sudahlah, terlalu jauh memaksa pemikiran untuk menjawab beberapa kata “kenapa?” yang akan muncul. Ribuan “?” sekalipun hanya akan menyita waktu. Syukuri. Cara yang tepat untuk nikmat yang selalu Allah sematkan dalam setiap detik yang senada dengan detak jantung yang terus berdegup.

Ke luar negeri,

Bukan sesuatu yang membanggakan, begitu isi dari tweet buah jemari ulama kawakan, KH. Abdullah Gymnastiar. Kebanggaan adalah ketika kita semakin dekat pada Allah, lanjutnya. Memang saat itu saya baca beberapa tweet Aa Gym, saat itu beliau memang sedang berada di Berlin – Jerman, layaknya entertainer, tweeternya “digilai” ummat yang merasa kagum dengan keberangkatan Aa saat itu.

Allah tak pernah tidur, rupanya itu adalah doa yang tak sadar saya ucapkan. Tanpa disadari, dua pekan setelahnya saya sudah mengurusi visa ke Jerman, melalui proses yang lumayan menguras pikiran, Alhamdulillah semua bisa diselesaikan.

Relevansi

Kesempatan ini bukan sengaja saya rencanakan, ini adalah bagian dari safar (Roadshow) grup nasyid yang aku ikuti, memang setahun kebelakang saya mengikuti grup nasyid yang terkenal di jazirah Arab, Dai Nada. Meski anggotanya warga Indonesia, tapi mungkin orang arab lebih mengenalinya dibanding WNI.

Hobi, itulah kata yang tepat untuk menebus harapan yang diidamkan. Mulanya  memang hobi, tapi begitu ada kesempatan untuk menjadi anggota Dai Nada, tentu sangat bodoh jika saya tinggalkan. Dengan dialek lebay, rekan masisir sering berpendapat saya orang beruntung, tentu karena dapat kesempatan bergabung di grup nasyid kenamaan ini.

Terlepas dari itu , saya hanya ingin mengoptimalkan kemampuan yang dibarengi keinginan untuk menjadi seorang Munsyid. Hobi… itu memang modal awal, tak secuil kemampuan yang kumiliki mengenai nasyid, hanya kemampuan yang sampai kini terus menggebu.

Hal ini pula yang sering membuatku minder.  Memang dibanding anggota yang lain, latar belakangku sangat berbeda jauh, betapa tidak hobi nyanyi lagu dangdut dipaksakan bernyanyi nasyid, aneh bukan? Kendatipun demikian saya tak mau kesempatan emas ini hanya berlalu begitu saja. Dengan usaha yang terus dilakukan, bahkan tak jarang saya diejek karena sering bernyanyi sendiri dengan suara yang pas-pasan, tapi tak apa, bagi saya, ini hanyalah sebuah cambukkan agar menjadi lebih baik.

Hobi. Hobi dan hobi, itu alasan untuk tetap bertahan. Kata “hobi” ini menjawab puluhan bahkan ratusan “?” yang terlontar dari mulut kerabat dekat. Banyak email yang saat itu masuk, entah itu pujian, pertanyaan atu mungkin hanya awal dari sebuah perkenalan. Ringkasanya rata-rata menanyakan kekaguman dan pertanyaan mengenai keperlua
Berkali-kali saya menjawab “Hadza min fadli Rabbi”, hanyalah cuplikan dari skenario Allah yang begitu indah. Perjalan ini hanyalah buah daripada hasrat yang menghiasi hobi.n saya ke Jerman. Hmmm, miris, kendatipun saya merasa bangga, Indonesia tetap menjadi destinasi yang sangat membanggakan.

Tanpa mengurangi rasa syukur kepada Allah SWT dan terimakasih yang sedalam-dalamnya, terutama pada rekan-rekan Dai Nada yang bersedia memberikan motivasi dengan kesempatan yang diberikan, terkhusus Kak Akhyari yang dengan kerelaannya mengikutsertakan saya untuk ambil bagian dalam syiar kali ini.

Muhasabah

Berkaca dari hal ini, saya hanya ingin menjadi pribadi yang bersyukur, sekalipun peluang untuk ria dan takabbur juga membuntuti. Berharap semoga perjalanan ini beroleh berkah. Aamiin.

Motivasi

Detik ini jadi acuan untuk semakin berani bermimpi, Allah Maha Kuasa. “Man jadda wajada” benar adanya, seikat hobipun bisa jadi landasan ketika kita bersungguh-sungguh. Dahulu saya berpikir, keluar negeri itu takkan pernah jadi kenyataan. Secara perlahan tahap-tahap impian mulai terwujud. Tetap berhusnudzan pada Allah. Dia Maha Segalanya.