Home

Hanya 2 Menit

2 Comments

hanya 2 menit

Buku lanjutan dari 7 Keajaiban Rezeki ini juga tak kalah menarik. Melihat judul bukunya saja sudah sangat menggiurkan. Ide gila macam apa lagi yang mau disampaikan Mas Iphho? Buku yang membahas tentang mindset, passion, value dan model ini lebih menekankan pada action dan model yang harus dimiliki oleh seorang yang ingin sukses berbisnis. Tak heran jika pada buku ini banyak diceritakan kisah-kisah inspiratif mereka yang sukses keluar dari belenggu menyakitkan- kemiskinan. Apalagi motivasi kuatnya adalah dengan korelasi yang mendalam bahwa Rasulullah sekalipun tercatat sebagai pebisnis yang handal.

Aku mendapat banyak hal dari buku yang isinya hanya sekitar seratus lima puluh lembar ini. Untuk membacanya pun tak perlu banyak waktu. Sehari saja sudah bisa sambil ongkang-ongkang. Hehehe… Namun jangan salah, membaca saja tak cukup. Lebih dari itu kita harus mencerna matang-matang apa yang hendak disampaikan Mas Iphho yang begitu berbobot ini. Paling tidak, buku ini banyak menyinggung dua poin penting, yaitu mindset dan model. Mungkin dalam kaitannya dengan mindset inilah banyak yang tidak menyadari dirinya terbelenggu kemiskinan. Padahala disini dijelaskan, kendatipun benar-benar dalam keadaan miskin harta jangan sekali-kali bermental miskin, entah itu tercermin dari kenyamanan meminta-minta atau merasa diri tak berkelimpahan. Padahal dasar dari manusia sendiri sudah sangat “kaya”. Bayangkan jika ada orang yang berniat menebas telinga anda dan membayar senilai ratusan juta, bersediakah anda? Begitu Mas Iphho mencoba mendeskripsikan betapa mahalnya karunia terhadap manusia, bahkan tak ternilai harganya. Maka dari itu jangan biarkan mental miskin kita pelihara. Apalagi ditularkan ke orang lain, Hehehe… Bisa melarat se RT tuh, Hahaha… Hati-hati pula dengan kata-kata yang terkesan tegar padahal sangat menjatuhkan. Misalnya biar miskin yang penting tetap sabar. Boleh jadi itu menguatkan, tapi secara tidak langsung  kita membiarkan diri kita tetap miskin. Wong yang kaya aja harus tetap sabar. Kalo toh masih bisa kaya kenapa pilih miskin? Hayo! terus banyak juga anggapan bahwa kaya itu cenderung pelit, sombong dan mudharat. Sejauh ini tak ada yng bisa memastikan hal itu tetap terjadi pada diri yang kaya, lha wong sing miskin juga masih bisa sombong, apa gak kebangetan tuh?? hehe…

Sudahlah, kita memang harus belajar banyak dari buku ini. terlebih masalah mindset dan model yang harus memotivasi diri untuk tetap kaya. Jangan mencari-cari alasan kemiskinan dengan mencari model, entah itu kawan atau idola sekalipun yang miskin. Apalagi Rasulullah dan sahabat juga orang kaya yang thaat, tentu kita sangat dianjurkan untuk meneladani mereka. Tak ada lagi alasan miskin kecualai memang tak mau kaya, tapi ingat yang tak mau kaya kira-kira orang macam apa ya? wong anak kecil yang belum bisa jalan aja sudah mau kaya. hehe…

Alhamdulillah, yang jelas bertambah lagi pengetahuan meski sedikit. yan penting masih bisa mengisi waktu liburan dengan hal yang bermanfaat… terimakasih buat yang sudah meminjamkan bukunya, hehe (lag-lagi gratisan, hehehehe). Semoga kita menjadi pribadi yang bermental kaya dan benar-benar kaya serta terus bersyukur. Aamiin… 🙂

Ranah 3 Warna

2 Comments

Ranah 3 Warna

Pantas jika Al-Quran memerintahkan manusia dalam wahyu pertamaNya, Bacalah! Banyak hal yang didapat dengan membaca. Salah satu diantaranya adalah semanagat hidup yang akhir-akhir ini banyak menyelinap dan menghilang dari badan tegap sekalipun. Padahal keberadaan semangat hidup sangat mendorong seseorang untuk bisa menikmati dan menghayati hidup. Ada banyak buku yang bisa dibaca guna memancing semangat hidup yang dimaksud.

Alhamdulillah, aku menghabiskan waktu seharian ini dengan sebuah buku karya Bang Ahmad Fuadi. Ranah 3 Warna. Melihat judulnya saja aku sudah sangat penasaran, paling tidak pertanyaa membabi buta muncul dibenakku. Apa saja isi ceritanya, siapa dan bagaimana kejadiannya. Benar saja, setelah kubaca dengan penuh rasa penasaran, buku ini banyak menginspirasi dan menambah kuat semangat hidupku.

Pada buku pertamanya, Negeri 5 Menara, Bang AF menceritakan gambaran kehidupan di pesantren. Aku sudah sangat respek dengan buku itu. Bahkan aku yang kebetulan hadir pada launching buku pertamanya di Al-Azhar-Jakarta langsung menyergap buku itu lengkap dengan tanda tangan penulis. Photo bareng juga tak aku lewatkan. Kebetulan saat itu ada banyak teman-teman yang ikut karena acara launcing buku juga bagian dari acara Silaturahmi Akbar Alumni Pondok Modern.  Bahkan dalam kesempatan itu hadir beberapa tokoh penting  seperti diungkapkan dalam novel tersebut. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, KH. Hasan Abdullah Sahal selaku pimpinan pondok modern Gontor. Duduk bersampingan bersama beliau, KH. Mahrus Amin, pimpinan pondok modern Daarun Najah dan KH. Hidayat Nur Wahid serta Menpora, DR.  Adhiyaksa Dhault. Aku bahagia bisa turut hadir ditengah tokoh nasional yang juga kebangga ummat seperti para pimpinan pesantren ini. Kebahagiaan itu semaki lengkap dengan suguhan istimewa karya salah satu putera terbaiknya, Bang Ahmad Fuadi (Negeri 5 Menara) yang juga sahabat dari pembimbing yang memberangkatku ke Mesir ini.

Buku itu sangat menarik dengan isi yang sangat kental nuansa kehidupan pesantren. Tidak berhenti disana, ternyata di buku keduanya ini (Ranah 3 Warna) Bang AF kembali mendeskripsikan nilai-nilai religi buah dari pengalamanny selam mondok di pondok madani seperti diceritakan dalam novel. Ia membawa misi dakwah sampai ke negeri yang ia pijak. Ranah 3 Warna menjadi medan dakwah yang ia sampaikan dalam bentuk karya yang digariskan pena. Beberapa negara menjadi latar cerita tersebut.

Buku ini sangat menginspirasi, jujur aku tak sedang promo atau sekadar memberikan testimoni. Lebih dari itu aku merasakan manfaat yang luar biasa. Terlebih dengan kesamaan kondisi yang sama-sama alumni pondok, lebih paranya lagi aku hanyalah jebolan pondok salaf / tradisional. Dengan kehadirannya, aku menjadi menemukan banyak hal dan perlahan menutupi prasangka banyak orang yang mengira bahwa lulusan pesantren hanyalah menguasai mushala lengkap dengan penghukuman “masa depan suram” alias madesu. Novel ini membantu menjelaskan bagaimana pendidikan pesantren seharusnya dibanggakan dengan penerapan nilai religi yang terkandung didalamnya.  Bahkan lebih terangnya lagi, disini mengisahkan seorang lulusan pondok yang sukses dengan segudang prestasi. Hal ini juga diharapkan bisa menjadi motivasi khususnya bagi kalangan santri  untuk selalu berhusnudhan dan selalu optimis dengan setiap tantangan masa depan.