Home

Sentilan Lucu

Leave a comment

Silakan baca, cermati dan… nikmati!!!

Copas dari anggota grup “dakwah mudah”1. pacaran itu menjalin silaturahim | “silaturahim itu hubungan ke kerabat, bukan pacaran” #UdahPutusinAja

2. pacaran itu bikin semangat belajar | “semangat belajar maksiat?” #UdahPutusinAja

3. pacaran itu buat dia bahagia, itu kan amal shalih | “ngarang, btw, telah bahagiakan ibumu? ayahmu?” #UdahPutusinAja

4. pacaran itu sekedar penjajakan kok | “serius

nih penjajakan? ketemu ibu-bapaknya berani?” #UdahPutusinAja5. kasian kalo diputusin | “justru tetep pacaran kasian, dia dan kamu tetep kumpulin dosa kan?” #UdahPutusinAja

6. kasian dia diputusin, aku sayang dia | “putusin itu tanda sayang, kamu minta dia untuk taat sama Tuhannya, betul?” #UdahPutusinAja

7. putus itu memutuskan silaturahim | “silaturahim itu kekerabatan, sejak kapan dia kerabatmu?” #UdahPutusinAja

8. nggak tega putusin.. | “berarti kamu tega dia ke neraka karena maksiat? apa itu namanya sayang?” #UdahPutusinAja

9. aku nggak zina kok, nggak pegang2an, nggak telpon2an, kan nggak papa? | “nah bagus itu, berarti gak papa juga kalo putus” #UdahPutusinAja

10. aku pacaran untuk berdakwah padanya kok | “ngarang lagi, dakwahmu belum tentu sampai, maksiatmu pasti” #UdahPutusinAja

11. nanti putusin dia gw gak ada yg nikahin gimana? | “pacaran tak jaminan, realitasnya banyak yg nggak nikah sama pacarnya” #UdahPutusinAja

12. berat mutusin | “semakin berat engkau tinggalkan maksiat untuk taat, Allah akan beratkan pahalamu :)” #UdahPutusinAja

13. nanti aku dibilang nggak laku gimana? | “bukan dia yang punya surga dan neraka, abaikan saja” #UdahPutusinAja

14. kalo aku putusin dia, dia ancam bunuh diri | “belum apa2 pake anceman psikologis, dah nikah dia bakal ancem bunuh kamu!” #UdahPutusinAja

15. dia masi ada utang ke aku, berat mutusinnya | “hehe.. kamu ini rentenir ya? kl terusan hutangnya malah nambah” #UdahPutusinAja

16. pacaran itu makan waktu, makan duit, makan hati | mending waktu, duit dan hati diinvestasikan ke Islam, #UdahPutusinAja

17. pacaran memang tak selalu berakhir zina, tapi hampir semua zina diawali dengan pacaran, #UdahPutusinAja

18. pacaran itu disuruh mengingat manusia, bukan mengingat Allah | melisankan manusia bukan Allah, #UdahPutusinAja

19. pacaran itu bikin ribet, dikit2 bales sms, dikit2 telpon, dikit-dikit minta dikirim pulsa (wah, sms mamah baru nih) #UdahPutusinAja

20. pacaran itu dikit-dikit galau, dikit-dikit galau, galau kok dikit-dikit? hehe.. #UdahPutusinAja

21. lelaki, coba pikir, senangkah bila engkau menikah lalu ketahui bahwa istrimu mantan ke-7 laki-laki berbeda? #UdahPutusinAja

22. wanita, coba pikir, inginkah berkata pada suamimu pasca akad kelak “aku menjaga diriku utuh untukmu, untuk hari ini :)” #UdahPutusinAja

Syaikh Zakarya Mohamed

Leave a comment

Bukan gosip apalagi intuisi Sang juru khutbah, melainkan karena hal ini memang patut diperbincangkan. Dalam kesempatan yang berurutan – lagi-lagi – Syaikh Zakarya, salah satu imam masjid Al-Azhar menyampaikan khutbah tentang kepemimpinan. Mungkin ini berkaitan erat dengan keadaan Mesir saat ini. Dan memang seorang khatib dituntut untuk seperti itu, menyampaikan ‘ibrah dalam cakupan yang sesuai waqi’ atau keadaan.

Aku sangat salut dengan Syaikh yang satu ini, bahasan khutbah yang sangat mendalam tak hanya disampaikan pada kesempatan khutbah jumat saja. Beliau bahkan lebih gamblang menyampaikan pesan-pesannya pada hampir setiap waktu dars setelah berjamaah shalat maghrib. Beberapa pandangannya seputar kepemimpinan bisa jadi acuan warga Mesir untuk memilih siapa yang layak untuk menjadi pengganti rezim terdahulunya.

Syaikh menegaskan beberapa poin penting yang menentukan layak dan tidaknya seeorang memimpin. Sesekali ia menyampaikan targhib akan tugas berat seorang pemimpin. Jangankan presiden yang memimpin suatu negara, menjadi pemimpin keluarga pun rasanya sulit. Apalagi harus dipertanggungjawabkan dihadapan Yang Maha Kuasa.

Aku dan Kau adalah Kita

2 Comments

Hari ini menjadi gerbang baru perjuangan di masa depan. Aku bersama kawan-kawan yang lain tengan berkutat dengan materi ujian yang tak hanya sulit dipahami tapi juga jumlahnya yang tak sedikit. Tapi kita tetap optimis dengan perjuangan yang dijalan ini. Janji Allah “wa alladzi jaahaduu fiina lanahdiyannahum subulanaa…” senantiasa menyulut semangat yang harus tetap berkobar.

Dipojok sana, para pejuang baru yang bermaksud melanjutkan studi ke Al-Azhar juga tak kalah berat. Mereka memulai kiprah barunya sebagai calon pejuang dengan mengikuti seleksi masuk Al-Azhar. Kami disini hanya bisa mendoakan, semoga adik-adik menjadi pilihan diantara insan terpilih. Bukan hanya memanfaatkan popularitas dan nilai lebih lulusan luar negeri.

Aku dan Kau adalah kita– kiita yang akan menjadi tentaraNya. Tak sedikit pengorbanan yang harus dilakukan untuk bertafaqquh demi tegaknya agama yang diridhai Allah. Kita hanya baru memulai perjuangan yang nantinya akan dibuktikan dengan loyalitas pada ummat. Semoga kita menjadi generasi yang bisa mewarnai negeri dengan beragam inovasi.

Berbahagialah bagi mereka yang bisa menginjakkan kakinya di bumi para Nabi ini. Hanya beberapa saja yang punya kesempatan langka, untuk itu mari memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin.

Celoteh Pagi

4 Comments

Males ngapa-ngapain– bawaanya ngantuk terus. Padahal ujian udah bener-bener didepan mata, hayooo!!! Awalnya ngikutin kemauan aja. Tapi alhamdulillah gara-gara maksa badan buat beraktifitas akhirnya bisa keluar dari zona malas. Hehe… simpel aja, kemarin– abis jumatan nelpon ortu di tanah air. Subhanallah, bangkit… ya, aku terbangun dari keterpurukan (lebaaaay, haha).

Memang semangat untuk belajar tak serta merta memuncak. Lhaaaa. . . Terus apa yang bangkit??? Yang bangkit itu keinginan untuk segera menikah. Hehe. Soalnya pas ditelpon, kakek langsung bilang “a, cepet pulang– yang lain dah pada nikah” aku diam… bingung… ngaheng pokona mah. Maksudna naon ieu the. Aki teh mamanas? Ato naon? Mudah-mudahan sih emang ada jodohna, jadi begitu pulang– ngalamar we langsung. Ka si “anu” oge teu nanaon, sugan cocok sama keluarganya juga keluargaku… amin… amin… 🙂

Dipikir-pikir, ada benarnya juga mamanas gera nikah. Istilahnya teh meureun menyelam sambil minum air. Sambl ngasih motivasi biar cepet pulang– juga nyemangatin biar serius belajar. Enya kitu? Ia lah. Kan pas berangkat kesini oge amanatnya “jangan dulu pulang sebelum bener-bener selesai kuliah” jadi ya harus semangat belajar biar cepet nikah. Eh gini maksudnya teh belajar yang tekun biar ujian lulus– tah kan jadi bakal cepet lulus kuliahna, terus we nikah. Haha, siga ngajelaskeun ka budak SD wae.

Intinya berarti sekarang harus belajar yang tekun. Lulus atau tidak tergantung usaha, doa kadituna the takdir. Hmm :). Nah nikahnya kumaha? The eta mah harus beres dulu kuliah. Duduk tenang weh, ke dipangmilihkeun ku Allah, nu sesuai… Ath-thaayyibuuna li ath-tahayyibaat, cindekna annahdiyyuun lil fatayaat, hehe. Heup ah, diajar kaitu sujang!

Catatan Malam ini (stress edition)

Leave a comment

Kairo malam ini. Jam dinding menunjukan waktu pukul 00 : 48 Clt. Biasanya memang ini waktu yang ideal untuk istirahat, tapi malam ini malah sebaliknya. Jangankan tidur pulas, dian untuk sekadar duduk-duduk santai saja tak bisa. Bukan tanpa alasan, malam ini sepertinya ada yang pesta. Nikahan? Ya, mungkin resepsi pernikahan. Layaknya di Tanah air, pernikahan dirayakan semeriah mungkin. Ada sesuatu yang masih sulit ku ikuti, sampai saat ini aku belum bisa beradaptasi dengan hal ini.

Di Mesir, pesta pernikahan lazim dilakukan malam hari. Tak apa jika memang seperti di Indonesia, acaranya jelas, entah itu kirab pengantin, atau hanya sekedar temu kangen sanak famili. Tapi disini (Baca : Mesir), aku harus mencari penutup teling atau bahkan mencari pengungsian, kenapa? Musik yang biasanya mereka putar mengeluarkan suara yang sangat tidak nyaman. Bukan karena irama yang tidak jelas. Rasanya baru disini tombol volume berada pada titik maksimal, walhasil– telinga ini harus benar benar ditutup, jika tidak, mungkin aku akan merasakan sakit telinga yang parah (lebaaaaaaay).

Tahukah kawan bagaimana saat ini aku menulis? Aku saat ini berhelm layaknya pembalap– dan itupun belum cukup menutupi suara yang terus memaksaku mendengarkan musik yang sangat tidak enak. Jari-jariku menekan keyboard laptop dengan keras, seolah membuktikan bahwa aku benar-benar kesal dengan keadaan seperti ini.

Egois sekali orang Mesir ini. Tak bisakah mereka memutar lagu-lagu kebanggaanya -yang super tidak enak didengar- dalam volume yang wajar? Apalagi ini sudah sangat larut. Hmmmm. Kalau saja aku tahu malam ini akan ada pesta semacam ini, tadi siang aku pergi meningalkan rumah. Sekedar ingin menikmati istirahat malam. Kalau seperti ini, tak banyak yang bisa kulakukan selain ikut berteriak atau berjalan kesana kemari umtuk menghilangkan jengkel.

Ibroh, kita memang punya hak untuk memutar musik sesuka hati, tapi ingat hak orang lain… jangan sampai terganggu,  pernikahan yang semula mengharapkan keberkahan malah bisa mendatangkan kemudharatan.

Siapa lebih Ustadz?

Leave a comment

Kontroversial, kata pertama yang enak diucapkan untuk menggambarkan perannya yang dinilai ustadz. Berwibawa, kata ini pula patut bersandang padanya, dimata orang-orang seprofesi-bahkan semua orang yang mengenalinya. Saya bangga dengan sosok yang satu ini, identitas muslimnya tak pernah ia lupakan, karir yang ia rintis pun adalah bagian dari cara menegakan dien-Nya. Sekilas, tampak seperti seniman lainnya. Beda- sangat beda, ia punya berjuta potensi. Gayanya yang tak menonjolkan ke”ustadz”annya, lebihnya jauhnya lagi, orang sekitar jarang bahkan mungkin tak ada yang memanggilnya ustadz.

Selama ini kita menyebut ustadz bagi orang-orang yang ahli agama, di Jawa sebutannya Kiai atau Gus, di Sunda biasa dipanggil Aceng atau jika kita ke Banten mungkin Tubagus gelar yang hampir sejajar dengan Ustadz. Mengamati stylenya dipuluhan tahun kebelakang, hmmm, sangat unuk, tak jauh beda dengan orang-orang dipinggiran jalan, mungkin seperti itulah gaya jadulnya. Semakin kesini, ia tampak berpakaian cuek, dengan dada bidang yang sedikit terbuka karena kancing baju yang tak lengkap ia pasang. Bunglon, kata kasar yang bisa menggambarkan gayanya dari masa kemasa. Tapi, sosok yang pandai beradaptasi, agaknya lebih baik dari kata yang tadi, begitulah ia.

Bicara tentang ustadz, kini hampir semua orang tahu, terlebih dengan banyaknya ustadz-ustadz yang jadi public figur. Image seorang ustadz pun hampir semua orang bisa menggambarkan. Pakai peci dengan baju koko dan lidahnya mengeluarkan bunyi yang sejuk didengar, kalau bukan kalam Ilahi, sabda Nabi yang sering disampaikan. Sepakat, kendatipun ini hanya beberapa dari tanda-tanda keustadzan.

Sejauh ini memang sulit atau bahkan tidak ada lembaga khusus yang mencetak dan meluluskan seseorang sebagai ustadz, pesantren saja tak pernah mendeklarasikan diri untuk berkomitmen mencetak ustadz-ustadz. Disana diajarkan ilmu-ilmu spiritual, tepatnya mengenalkan manusia pada Sang Khalik.

Di Indonesia ustadz lebih lazim dinisbatkan pada mereka yang berpengetahuan luas dibidang agama. Mungkin lebih berbau religi atau bahkan bisa dikatakan makhluk Tuhan paling suci 😉 . Sehingga tertutup kemungkinan ada ustadz dubidang lain yang tidak berkaitan dengan “dunia” agama.

Lebih sulit lagi ketika beranjak ke Mesir, disini tukang jual minuman dipanggil ustadz; yang berjualan fuul tho’miyyah juga seorang ustadz; mereka yang mengajar dikampus apalagi, ini yang sering dipanggil ustadz; yang lebih menarik adalah warga negara Indonesia yang biasa saling memanggil ustadz. Jadi apa sebenarnya ustadz itu?

Kata yang berasal dari bahasa Arab ini berarti pengajar; pendidik; guru besar universitas. Tak ada salahnya jika professor di universitas di Mesir biasa disebut ustadz. Lalu bagaimana dengan  ustadz yang ternyata adalah tukang jual minuman atau lebih parahnya lagi penjaga kafe. Oh, tunggu dulu, orang Mesir sangat suka bermujamalah; memperindah bahasa untuk menghormati. Bisa jadi panggilan itu hanya wujud penghormatan, tidak diletakkan pada makna yang sebenarnya. Kalaupun merasa keberatan dengan mujamalah tersebut, bolehlah sedikit berhusnudzan dengan memperluas kata pendidik. Hampir setiap pribadi bisa jadi pendidik bagi dirinya sendiri bahkan bagi orang lain.

Kembali lagi ke pertanyaan sesuai judul, predikat ini (baca : pendidik) juga yang ada pada sosoknya yang begitu ramah dan teguh pendirian. Ia tak mendidik didikannya dengan perantara tulisan, apalagi dengan kapur yang biasa tergores didepan peserta didik. Lebih dari itu ustadz yang satu ini juga jarang memakai atribut keustadzn seperti peci layaknya ustadz yang umum dan kita ketahui. Dia mengajak ummatnya dalam alunan nada yang mengandung pesan moral yang begitu kental. Mungkin ini juga yang menjadi alasan eksistensinya tak tergantikan. Ayat Al-Quran ataupun hadits Baginda ia lantunkan dengan saripati yang mudah dicerna dan tidak terkesan menggurui, sehingga lebih mengena ke telinga dan hati pendengarnya. Menelusur latar belakangnya, ternyata ia adalah santri jebolah pesantren di tatar priangan. Kepala pun kini mengangguk, pantas saja ilmu agamanya tak kalah saing, sekalipun dengan yang “mendeklarasikan diri” sebagai ustadz.

mendadak ustadz

Sebagai bentuk komparasi. Di Indonesia tak sedikit ustadz yang menjadi “korban” sang “pemegang kuasa” saat ini. Ya, dalam hal ini kekuatan pers. Liputannya di infotainment kiranya juga bisa melahirkan sosok ustadz-ustadz baru. Tak peduli ilmunya mapan atau tidak, yang terpenting gayanya sesuai dengan ciri keustadzan, entah itu berpeci atau beratribut lainnya. Inilah yang sebenarnya mengkhawatirkan, beruntung jika memang kapasitas keustadzannya itu sesuai dengan yang semestinya. Ketika tak sesuai, image ustadz sebagai “makhluk suci” pun bisa jadi mengikis.

Islam tentunya sangat bebangga dengan keteguhan hati para pejuangnya semisal ustadz. Tetapi, kualitas yang tercermin dari kapasitas ilmu pun tak kalah penting. Bukankan orang lebih banyak memilih kualitas dibanding kuantitas. Tanpa bermaksud merendahkan ustadz yang kini  berkeliaran.  Kiranya perlu diingat dan didalami kembali makna atau paling tidak penggunaan sebutan ustadz itu sendiri. Jangan sampai orang yang belum sesuai dengan predikat mulia itu dikukuhkan– lantas jadilah ustadz baru yang masih kurang ilmunya.

Tak ada gading yang tak retak. Mungkin ini jadi salah satu alasan yang seolah menafikan kesempurnaan manusia. Dalih tak ada manusia yang sempurna  janganlah terlalu dipatenkan jika sekiranya hanya akan mengikis motivasi untuk berupaya seoptimal mungkin memperbaiki diri menuju kesempurnaan.

Saya lebih eman dengan pribadi yang ilmunya mapan dibidang agama lantas bertugas layaknya ustadz– sekalipun tak disebut ustadz. Dahulukan substansi daripada hanya sebuah embel-embel atau titel  yang kurang sesuai. Bukankah hal ini yang semestiya kita harapkan sebagai pembimbing? Tentunya.

Semoga detik ini menjadi langkah awal untuk tegaknya Dienullah, Islam yang kita cintai. Bukan harapan berhasil mencaci, menghilangkan potensi pun bukan maksud hati. Tak lebih dari sebuah coretan yang mengajak berintrospeksi diri.

Kairo, 3 Mei 2012

Klarifikasi, Jati kasilih ku Junti

Leave a comment

Ngarasa hariwang tur sedih upama nalumtik naon rupa kajadian nu remen pisan kabandungan, komo nu patali jeung budaya tabayyun atawa dina séjén istilah disebut klarifikasi. Padahal éta téh pohara pisan pentingna, alatan upama teu kitu tangtu bakal loba pisan kasalah pahaman. Béh dituna urang bakal ngarandapan jaman nu luyu jeung politik baheula nu kamasyhur disebut “divide et impera”, politik adu domba, sabab naon rupa hal anu masih samar tur teu jelas bener henteuna bisa dimangpaatkeun jadi sumber fitnah.

klarifikasi ngaliwatan konferensi pers

ilustrasi : klarifikasi ngaliwatan konferensi pers

Sababaraha poé katukang meunang béja ngaliwatan media ngeunaan réa kasus nu meujeuhna ramé di Indonesia. Korupsi, loba pejabat nu dituding ngalakukeun hal hina saperti kieu. Disebut hina lain wungkul alatan  pagawéan maling nu tangtu mangrupakeun pagawéan goréng, leuwih ti kitu barang nu paling lain barang sosoranganan, tapi barang rahayat, barang jalma réa.

Kuring teu rék pipilueun ngabahas nukitu sabab lain pak jeung can waktuna sanajan meureun hak kuring aya nu dicokot ku “bangsat rahayat” (baca : koruptor) éta. Ngan saeutik nu masih kénéh ngaganjel nepi ka kiwari. Hiji kasus nu ditudingkeun ka menteri Agama kabinet gotong royong , Bapak Prof. Dr. Haji Said Agil Husin Al Munawar, MA. Harita kuring teu loba tatanya. Kiwari kasuat-suat deui, naha enya kitu anjeuna ngalakukeun pagawéan hina samodel kitu? Kuring teu maksud ngabéla anjeuna, ngan saeutik teu percaya, jalma nu dipiajrih siga anjeuna bari lain séké-séké jalma, apanan anjeuna téh alumni universitas Ummul Quro, Madinah. Tangtu kudu lalawora migawé hiji hal nu teu luyu jeung aturan agama dalah darigama ogé kacida pisan antebna. Sanajan ari nilik hakékat jelema mah tangtu bisa waé jalma nu “Agamis” ngalakukeun kasalahan, dumasar kana kasauran  “الانسان محل الخطاء و اللنسيان” manusa mah tempat salah jeung poho. Wajar jeung pantes upama manusa tikoséwad dina kasalahan tur amprok jeung poho. Hal ieu nu jadi lantaran bahaya korupsi  mungkin waé keur jalma pangkat anjeuna.

Tapi saeutik gedé kuring kacida pisan ngarepkeun transparansi atawa keterbukaan di media nu ngunikeun kalawan écés nu sabenerna. Supaya teu timbul fitnah nu lain wungkul ngarugikeun anjeuna tapi ogé ummat muslim pada umumna. Dalah kitu gening ari manusa mah, teu kaop kapanggih salah sok langsung dienya-enya, beda jeung kana pagawéan benerna, loba kénéh nu samasakali teu inget. Tapi bener atawa henteuna kasus  éta kuring teu rék ilubiung, mung Gusti nu Maha Uninga. Kuring ngan butuh klarifikasi sangkan ummat Islam teu katuduh sarua éstu disakompét daunkeun jeung anjeuna mun enya salah. Kitu deui upama memang kabuktian teu salah, urang kudu siap narima anjeuna deui salaku tokoh nu payus diturut alatan kalunhungan élmu jeung kalungguhan nu teu sagawayah, menteri Agama. Kuring ngarasa teu puas kulantaran kasus ieu kurang dipublikasikeun malah ampir dirusiakeun. handeueul masih kénéh karasa.

Keur bahan atikan, takngtu urang kudu bisa nyokot hikmah tina kajadian ieu, lain wungkul kasus nu karandapan ku Pa Said Agil, tapi umum keur saha  waé nu nglaman musibah, fitnah jeung aib / wiwirang saperti kieu. Teu pantes ngilu ilubiung dina masalah nu masih kénéh samar, teu jelas juntrungannana komo deui mun lain ahlina. Alatan kitu kacida pisan dipiharepna nanjeurkeun budaya Tabayyun atawa Klarifikasi sangkan teu tumaninah dina fitnah atawa milu ngabolékérkeun wiwirang batur. Lintang tikitu  teu hadé upama urang ngahukuman sarua atawa nyangka sakompét daun jeung dulur-dulur nu katudingan. Yu urang diajar obyektif, upama enya ogé anjeuna salah keun baé éta mah urusan anjeuna jeung nu kawasa, anapon ari kana élmuna mah salila luyu jeung atikan agama teu nanaon ku urang diamalkeun, buruk-buruk papan jati, goréng kasebutna ngahukuman nusalah terus sagalana jadi salah, salilana salah, samentara urang  dipaparin kasempetan keur tobat tina kasalahan jeung rupa-rupa dosa.

Kairo, wanci carancang tihang.

NB  :

Klarifikasi : penjernihan, penjelasan, dan pengembalian kepada apa yg sebenarnya terjadi (tt karya ilmiah dsb); 
mengklarifikasi : menjernihkan, menjelaskan, dan mengembalikan sesuatu kepada yang sebenarnya

Older Entries