Home

Jum’ah Mubaarokah

Leave a comment

Pagi-pagi nyimak ceramah Syaik Ali Jumah, Mufti Mesir tentang fadilah Nisfu Sya’ban

Seperti biasa, jumatan di masjid Al-Azhar dengerin khutbah dari Syaikh Zakaria Muhammed Marzooq.
Selesai jumatan langsung tancap gas menuju tempat latihan di SIC

Ahad Yang Melelahkan

Leave a comment

Hari yang melelahkan, juga menyenangkan. Hari ini dipenuhi seabrek aktivitas yang bermacam-macam. Mulai dari masak, latihan dan fokus menyimak video musik yang akan ditampilkan dalam Summer Festival. Padahal malam harinya aku baru sampai dirumah jam 12 malam setelah latihan di Sekolah Indonesia Kairo. Namun lelah itu tak terasa jika dijalani dengan penuh semangat dan antusias jiwa seni. Apalagi aku memang hobi dengan aktivitas yang berbau musik ini, hehe…

Makin penasaran dengan bagaimana summer festival nanti. Besar harapan acara ini sukses digelar karena ini menyangkut nama baik Indonesia karena aku akan tampil mewakili Indonesia. Semakin deg-degan, semoga latihan yang rutin bisa sedikit mengurangi beban mental yang harus diderita, haha… Paling tidak, aku berusaha semaksimal mungkin untuk mensukseskan acara besar ini. Istirahat yangkurang juga tak menghalangi aktivitas berat ini. Sesekali aku terhibur melihat warga Mesir yang -dimana-mana- selalu menceritakan presiden baru kebanggaanya itu. Rasanya tak ada detik yang terlewat dari memperhatikan DR. Mursi, pemimpin idaman yang begitu memasyarakat dan penuh ambisi.

Bayangkan, segala sesuatunya diceritakan. Sampai apa yang beliau (Baca : DR. Mursi) makan warga Mesir tahu. Mungkin hanya satu hal saja yang mereka tak sempat perhatikan, apa? nomor sepatunya, hehe. Wajar saja mereka berlaku seperti itu,beliau menjadi presiden pertama yang dipilih langsung oleh rakyat. Belum lagi pribadi Sang Presiden yang begitu agamis dan sosialis. Beliau tak mau dikawal dengan iringan yang berlebihan. Kemana-mana hanya ditemani dengan sepuluh motor ajudan dan dua mobil paspampres. Ada banyak hal yang harus ditiru, selama jadi presiden kehidupannya tak banyak berubah. Beliau lebih memilih rumah sederhana ketimbang istana kepresidenan yang disediakan. Bahkan difasilitasi sebuah villa pun beliau menolak dengan alasan terlalu mewah. Sarapan pagi dengan sepotong roti juga rutinitas beliau berjamaah shubuh juga tak mencerminkan pemimpin yang biasanya terkesan “manja” dengan aturan protokoler yang serba resmi.

Lho kok jadi ngebahas presiden Mesir ya??? hehe. Tak apa. memang hari ini aku belajar banyak dari beliau. Beritanya muncul di hampir seluruh stasiun televisi lokal maupun internasional. Ada hal yang begitu memotivasi dari sosok presiden Mursi. Dengan kesibukannya sebagai abdi masyarakat yang dimulai dengan menjadi anggota dewan, presiden Mursi menjadi pemimpin yang hafal Al-Quran. Subhanallah. andai semua pemimpin yang mengaku “Islam” berpegang teguh pada Al-Quran, apalagi sampai menghafalnya. Tentu ia akan menjadi pemimpin sejati yang mungkin tak hanya di dunia. Dengan harapan yang sama, semoga Mesir dan Indonesia menjadi negara yang tenteram atas keberkahan yang dilimpahkan Allah dengan kehadiran pemimpin dan rakyat yang shalih. Amin….

Presiden Mesir Shalat Jumat di Al-Azhar

Leave a comment

Tak seperti biasanya, pagi hari di sekitar masjid Al-Azhar sudah tampak bersih. Selain dari itu terlihat beberapa petugas sedang membersihkan detail masjid yang biasanya tak dijangkau. Karpet merah yang menjadi khasanah khusus masjid Al-Azhar terasa begitu sejuk dan sangat rapi. Belum lagi tepat sampah, tempat sepatu dan lemari mushaf yang sudah sangat tertata. Untuk masuk ke masjid pun sudah disiapkan alat pendeteksi atau lazim disebut detektor.

Kunjungan presiden Mursi untuk kali pertama ini disambut meriah oleh warga Mesir. Masjid  yang berukuran sangat besar disesaki warga yang ingin bertemu pemimpin barunya itu. DR. Mursi hadir ditengah-tengah hadirin sidang jumat dengan kawalan paspampres yang super ketat. Didampingi mufti Mesir, DR. Nuruddin ‘Ali Jumah, presiden memasuki masjid untuk menyimak khutbah yang disampaikan oleh wazir aukaf, Syaikh Abd el Faadil Mohammed Abd el-Aziz al-Quusiy.

Dalam khutbahnya Syaikh Al-Quusiy menyampaikan beberapa pesan kepada jamaah, antara lain mengulas kembali kisah Alfaruk -Umar bin Khattab- akan pentingnya toleransi terhadap sesama pemeluk agama, perjanjian Elia, juga tentang peran Al azhar ketika berhadapan dengan penjajah prancis. Hal ini mengundang decak kagum dari jamaah dan memancing tetesan air mata Sang Presiden yang sadar akan beratnya amanah seorang presiden.

Shalat jumat yang juga dihadiri oleh grand syaikh Al-Azhar, DR. Ahmed Thayyib ini berlangsung khidmat meski sesekali warga berbuat gaduh karena ingin melihat presiden baru dari jarak yang dekat. Diakhir khutbah syaikh Al-Quusiy memanjatkan doa untuk kemaslahatan Mesir dan seluruh negara muslim lainnya.

Ini merupakan kesempatan yang luar biasa, bisa melihat langsung presiden Mesir terpilih, DR. Muhammed Mursi. Apalagi  melihat presiden sendiri (Bapak Susilo Bambang Yudhoyono) secara langsung  saja belum pernah. Ini menjadi pengalaman yang luar biasa. Walaupun harus berangkat lebih awal dengan pemerikasaan yang sepintas mirip boarding pass di bandara. hmmmm 🙂
Alhamdulillah.

Bonus Double

Leave a comment

Alhamdulillah, masih berkesempatan menunaikan salah satu kewajiban (memasak). Yang menarik, jadwalku mengalami penambahan (Asik dapet bonus… hehe, yang ada malah capek boss). Semenjak kepergian Yayi Hafidz menunaikan umrah aku harus siap mengisi jadwal masaknya di rumah idaman ini. Tak apalah, itung-itung beramal dan belajar. Bukankah kalau keseringan, masaknya jadi lebih terlatih? heheh (sok tegar dan bela diri). Tapi benar-benar peluang langka. Paling tidak, aku akan dengan gampang beradaptasi jika nanti istriku berhalangan untuk memasak, hehe (Cihuy… suami idaman cenah…). 😀

Yang lebih nikmat lagi, jadi gak banyak waktu buat keluar rumah. Lumayan menghindari panas yang mnyengat dan pemutihan kulit biar tak terlalu gelap. Hehe… Lumayan kan agak PD kalau kulitnya berwarna? hehe…  Apalagi ini sekaligus menjadi khadim tamu Allah. Pak Yayi Hafidz mendoakan lebih buat yang bersedia menggantikan jadwal masaknya. Bisa jadi doanya di multazam akan dipanjatkan secara khusus tuh buat yang masak, entah doa murah rezeki atau doa agar jodohnya semakin mendekat, heueheu… Amin banget Pak Yayi. Atau kalau bosan mendoakan panggil saja saya kesana, ok? gampang kan… biar bebas berdoa disana… 🙂

Keberangkatan Yayi Hafidz

Leave a comment

Hafidz Muzadi

Alhamdulillah, pagi ini rumah terasa agak rame dengan persiapan salah seorang kawan satu rumah ke tanah suci. Hafidz Muzadi, kawanku asal banyuwangi ini berangkat menunaikan ibadah umrah bersama guru kami Syaikh Yusri Rusydi Al-Hasani. Meski ini umroh pertamanya, namun dia terlihat lebih tenang karena bimbingan langsung dari gurunya itu. Terlebih keberangkatannya ke tanah suci juga tidak sendirian melainkan satu rombongan dengan warga Mesir.

Kami kawan satu rumahnya hanya mengantarkannya dengan doa juga sebuah harapan agar didoakan dan disampaikan salam takdzim kami kepada Baginda Tercinta. Kesempatan langka ini juga dimanfaatkan sebagai momentum mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bagi kami yang ditinggalkan tentu tak mau ketinggalan meski hanya dengan sebuah ketaan dalam berdoa. Terkhusus dalam kesempatan ini, kami memohon doa agar kami dilancarkan dalam urusan mencari ilmu yang mana kali ini harus berharap-harap cemas menunggu hasil kelulusan ujian Al-Azhar.

Sempat agak gugup ketika mendekati waktu dzuhur, Hafidz lupa membawa sesuatu. Kami pun dibuat bingung karena serba panik dan tak mengetahui kalau barang yang ketinggalan itu sudah dibawa oleh salah seorang anggota rumah kami untuk disampaikan. Padahal saat itu aku sendiri telah mengantarkannya sampai kupastikan ia naik taksi menuju Muqattam. Namun, karena kamera tertinggal di rumah kami kejar-kejaran dengan dia yang sudah naik taksi. Beruntung ia sempat mengingatnya dan kembali ke rumah sampai dua kali. Sungguh suatu pelajaran agar tenang dan tidak panik. Yang tak kalah pentingnya adalah mempersiapkan barang bawaaan dan memastikan agar tidak ada yang tertinggal. Apalagi berangkat ke tanah suci tentu membutuhkan kadar kekhusuan yang lebih. Paling tidak, kalau ada yang tertinggal itu ada yang dipikirkan diluar keperluan ibadah agar lebih khusu. Padahal aku sudah mewanti-wanti untuk mengecek satu persatu barang bawaan. Sedikit berbagi pengalaman ketika aku berangkat ke Jerman pun aku sampaikan. Namun aku juga harus memaklumi kalau keberangkatan ke tanah suci tentu akan terasa lebih berat dan mengharukan karena berhubungan langsung dengan panggilan Allah SWT.

Syaikh ‘Ied Abd el-Hamid

Leave a comment

Imam Masjid Al-Azhar, Mesir

 Alhamdulillah, lama tak mendengar suara khasnya– akhirnya beliau kembali mengisi khutbah Jum’at. Syaikh ‘Ied Abd el-Hamid, beliau adalah salah satu syaikh yang menjadi Imam di Masjid Al-Azhar. Selain sosoknya yang sangat menjadi panutan, suaranya yang khas menjadi alasan aku begitu kagum pada beliau. Bahkan ketika aku pulang ke Indonesia, suaranya ketika ia memimpin kami sholat berjamaah selalu terngiang. Aku sering berdecak kagum jika membayangkan bagaimana syaikh melafalkan bacaan Al-Quran dengan begitu fasih. Hal serupa juga diungkapkan oleh salah seorang kakak seniorku yang sudah tuntas melaksanakan studi dan bermukim di tanah air. Ia mengatakan rasa rindunya dengan suara khas Saikh ‘Ied.

Masih hangat dalam ingatanku ketika aku baru datang ke Mesir  dan sholat Isya di Masjid Al-Azhar. Beliau imam sholat pertamaku di Masjid bersejarah ini. Saat itu pula aku ingin selalu menirukan gayanya melafalkan Al-Quran. Begitu indah, lebih dari sekadar merdu. Selesai sholat aku langsung bertanya kepada kakak pembimbingku. “Kak, siapa nama imam sholat isya tadi? suaranya begitu enak didengar!”. Rupanya ini rasanya jatuh cinta pada “pandangan” pertama. Lebih tepatnya pada pendengaran pertama, hehe… Kakak seniorku tadi menyebutkan nama beliau. Dari sana aku mulai mengetahui siapa imam yang aku kagumi ini. “Nanti kalau kamu sudah tidak di Mesir, pasti kamu akan merasa rindu dengan suara khas syaikh ‘Ied” Tegas kakak. Aku hanya menanggapi seperlunya.

Benar saja, ketika pulang– aku ingin segera kembali ke Mesir untuk sekadar sholat berjamaah dan menjadi makmum syaikh ‘Ied. Ketika sudah agak lama di Mesir, aku mulai berani mencium tangan beliau selepas shalat. Aku selalu memintanya untuk mendoakan agar aku bisa mendapat ilmu yang bermanfaat dengan belajar di Al-Azhar ini. Bahkan ketika menghadapi ujian beliau mendoakanku agal lama dan meminta aku mengaminkannya, padahal saat itu kami berada di pintu keluar dari dhillah fatimiyyah (Bagian dalam Masjid Al-Azhar). Beliau mengusapkan tangannya dikepalaku. Aku merasa bahagia dan merasa sangat tenang setelah syaikh mendoakanku yang lebih khusus untuk mengahadapi ujian.

Sudah hampir setahun ini beliau tak sesering dulu menjadi imam. Mungkin beliau sedang sakit, aku mengira demikian karena kondisinya yang tak muda lagi dan ketika ceramah pun beliau sering batuk ringan. Nampaknya memang benar-benar sakit. Kali ini Syaikh Zakaria dan Saikh Abdullah yang lebih sering menggantikan perannya menjadi imam. Aku selalu mendoakan agar beliau dipanjangkan umur dan diberi kesehatan dan kehidupan yang selalu berkah. Aku dan mungkin banyak diantara saudaraku yang muslim sangat memerlukan kehadiran sosok seperti beliau. Apalagi beliau sangat terkesan ramah dan begitu rahmah kepada jamaah.

Tak heran jika aku sangat merasa senang dengan kehadiran beliau di mimbar khutbah Jum’at kali ini. Aplagi beliau tampak lebih energik dari biasanya. Beliau sudah benar-benar sembuh dan mudah-mudahan selalu diberi kesehatan oleh Allah SWT. Muqaddimah yang disampaikan juga sangat enak didengar. Beliau membawakan khutbah dengan suara yang agak sendu tetapi benar-benar mengena dan sampai ke telinga hadirin yang mengikuti khutbah.

Yaa Allah, Kumpulkanlah kami dengan orang-orang shalih. Amin…

Fajar Penuh Tanya

2 Comments

Waktu ujian hanya tinggal beberapa jam saja, Aku dan temanku pergi ke Masjid untuk menguatkan hafalan. Berjalan ditengah lorong sempit yang disambut cerah berkabut hitam selepas keluar lorong. Pemandangan seperti inilah yang biasa dialami jika hendak keluar rumah. Maklum apartemen yang kami sewa membelakangi masjid Al-Azhar, sehingga perlu berputar arah untuk samapai disana. Atau bisa juga melalui lorong sempit sebagai alternatif pilihan kedua.

Sesampainya di masjid aku disuguhi pemandangan yang tak mengenakkan. Seorang pria paruh baya nampak sedang dipukuli oleh sekelompok pemuda yang sepertinya adalah mahasiswa yang ingin menghafal disana. Aku lantas bertanya pada seorang pemuda yang hanya berdiri tegak mengamati peristiwa itu. “Fii eh ya shadiqi?” dengan penuh rasa kaget aku bertanya tentang apa yang terjadi. Pemuda itu dengan tenang menjawab : “itu ada pencuri yang tertangkap tangan”.

Aku hanya terdiam kaku setelah megetahui kejadian itu. Aku benar-benar kaget, apalagi kulihat tangan si pencuri mengeluarkan darah akibat dipukuli.  Terus terang aku merasa iba dengan nasib pencuri yang belakangan kuketahui mengambil uang beberapa pound saja. Rasanya tak ada apa-apanya jika dibandingkan koruptor yang mengambil milyaran bahkan triliyunan uang milik bersama. Mungkin juga ia mencuri bukan karena rakus pada harta melainkan karena butuh untuk sesuap makan saja. Entahlah, beberapa spekulasi berputar dibenakku, terlebih ketika melihat ia sudah sangat renta dan berjalan terpapah. Ia tak bisa apa-apa.

Aku tak ingin menghukumi ia sebagai pencuri meski ia mengambil uang yang bukan miliknya. Bahkan salah seorang pemuda Mesir membisikan pendapatnya di telingaku. “Kasihan ya bapak itu, fukara sepertinya harus diperlakukan dengan sangat tidak wajar” aku mengiyakan dan memintanya menolong si “pencuri” yang diseret keluar masjid oleh gerombolan pemuda itu. Pemuda tadi nampak beristighfar dan langsung memboyong bapak yang dikerumuni para pemuda itu.

Uang yang bukan miliknya ia ambil. Ia bisa dikatakan pencuri. Tapi apakah itu juga bukan akibat dari kelalaian mereka yang sebenarnya  mampu membelikan makanan untuk kaum dhuafa. Bukankah Islam  tak rela membiarkan saudaranya yang kurang mampu kesulitan menacri rezeki sehingga berdampak mencuri?.

Pikirku kembali bercabang. Kalau saja zakat benar-benar efektif dikeluarkan dan disalurkan pada fakir miskin mungkin mungkin tak harusa ada pencurian karena alasan membutuhkan makanan lagi. Lantas pikiranku kembali terpancing, kenapa hukuman yang diterima si pencuri yang mengambil uang tak seberapa itu begitu berat? Tak sadar aku mengungkapkan pertanyaan itu pada salah seorang teman disampingku. Temanku dengan senyuman khasnya menjawab, “mungkin ini kifarat atas dosa yang ia lakukan untuk memperingan bebannya di akhirat nanti. Berbeda dengan koruptor yang mencuri limpahan harta, ia tinggal menikmati kehidupan dunia yang penuh tipudaya saja karena dia akirat tak ada kesempatan untuk menikmati hidup akibat siksaaan yang abadi. Wallahu a’lam”

Termenung dengan kejadian yang mebuatku bertanya-tanya, aku lantas berupaya mengalihkan pandanganku agar kembali terfokus pada buku yang sedari tadi kubiarkan begitu saja…

#Tafakkur, sesaat sebelum ujian tajwid

Older Entries Newer Entries