Kuliah di luar negeri nampaknya jadi cita-cita banyak orang, namun tak sedikit dari mereka yang hanya mengejar gengsi. Padahal ada hal yang harusnya jadi tujuan utama. Mencari ilmu, jika ini menjadi tujuan utama, rasanya tak perlu mengharapkan belas kasihan ataupun sumbangan dari orang lain. Karena Allah-lah, Sang Maha Kuasa yang menjamin dan meninggikan derajat pencari ilmu. Terlebih biaya hidup di Mesir ini relatif terjangkau. Niat awal harus baik. Terlepas dari itu semua, saya hanya ingin sedikit berbagi pengalaman studi di luar negeri, ke Mesir lebih tepatnya.

Persiapan Sebelum Berangkat

Lulus sekolah tahun 2009, saya mulai bingung memikirkan perjuangan selanjutnya. Sempat mendapat beasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di daerah Tangerang, peluang itu tidak saya lanjutkan karena merasa kurang cocok.
Suatu ketika, saya buka internet dan iseng mencari informasi beasiswa ke luar negeri. Akhirnya ada pengumuman pendaftaran beasiswa ke Mesir.
Meski pada mulanya bermodal nekad, perlahan saya ubah menjadi rasa berani.

Sebulan penuh saya berusaha menghafal Al-Quran dan belajar bahasa arab. Keduanya merupakan syarat standar masuk Al-Azhar. Saya sebut “standar” karena itu merupakan modal awal yang dimiliki semua pemohon beasiswa.

Diluar kedua syarat itu, saya berusaha mencari poin tambahan agar menarik penguji. Tahsin, memperhalus bacaan; ini akan menjadikan sedikit perbedaan dengan yang lain. Penampilan; hal ini juga saya manfaatkan agar tampil beda. Hemat saya, tidak banyak para pemohon beasiswa yang bisa meyakinkan penguji lewat penampilan. Meskipun tak berkaitan dengan materi yang diujikan, saya menceritakan keadaan di lingkungan tempat tinggal saya yang membutuhkan tenaga ahli dibidang agama. Seolah-olah saya dibutuhkan oleh masyarakat sekitar sebagai kader dakwah. Hasilnya, alhamdulillah saya dinyatakan lulus seleksi. Padahal, saya lulusan sekolah umum yang tidak belajar bahasa arab. Hadza min fadhli Rabbi, inilah anugerah Allah yang harus terus saya syukuri.

Hidup di Perantauan

Jangan berpikir beasiswa yang diberikan akan selamanya memenuhi kebutuhan hidup di negeri orang. Apalagi ingin sejahtera, atau tak sekadar cukup. Untuk itu, saran saya, pandai-pandailah mengatur dan mencari penghasilan tambahan. Dari mana? Di Mesir ini banyak sekali dermawan yang menginfaqan hartanya. Tidak gratis tentunya, hampir semuanya menentukan kategori penerima bantuan. Jadi, kita yang harus menyesuaikan diri.

Ragam Beasiswa

Beberapa lembaga ada yang mengharuskan perolehan nilai jayyid/baik sekali, ada juga yang mengharuskan miskin, hmmm. Maksudnya, penerima benar-benar membutuhkan.

Disamping itu, ada juga sumber penghidupan lain. Misalnya, alhamdulillah saya tergabung dengan salah satu tim nasyid yang sudah dikontrak untuk tampil rutin (gajinya pun rutin🙂 ). Yang menarik adalah undangan ke luar negeri; dapat pengalaman unik, honornya pun fantastik. Ada pula tawaran menjadi imam masjid. Agak berat, tapi bermanfaat dunia akhirat. Ikhlas! Jadi bisa persiapan jika dibutuhkan di tanah air, tambahannya; pahala dunianya juga lumayan.

Potensi berbanding lurus dengan rezeki jika dimanfaatkan dengan baik. Membaca, menulis bahkan bernyanyi adalah modal pengais rezeki.

Terakhir, rajin nabung. Jangan pulang ke tanah air dengan kantong kering. Paling tidak, tiket pesawat dan modal nikah (diluar beasiswa/tidak ada beasiswanya) itu harus dipikirkan.
Banyak diantara mereka yang terlampau percaya diri dengan titel luar negeri. Upayakan pulang ke tanah air dengan membawa lapangan pekerjaan untuk orang lain.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan :
– Niat; luruskan niat karena Allah.
– Mantapkan usaha sembari terus berdoa. Bila memungkinkan, mintai doa orang-orang yang dikenal.
– Ikhtiar dhahir yang meliputi :
¤  Tekad kuat, meyakinkan keinginan dan menggali informasi secara mendalam.
¤  Penuhi syarat penerima beasiswa, termasuk kelengkapan imigrasi. Cari nilai tambah untuk menarik penguji.
¤  Persiapan sebelum berangkat, terutama mental.
¤ Di perantauan ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Manfaatkan potensi diri, bila perlu, latih dan terus pertajam menjadi sebuah      keterampilan. Ini akan menjadi bekal berharga untuk tetap survive selama berjuang di perantauan. Jadilah tamu yang baik dengan menyeimbangkan syukur dan sabar.

#Postingan ini diikutsertakan dalam Kuis Berhadiah Oleh-oleh ABFI 2013