“… Pulang aku malu, tak pulang aku rindu”. Barangkali ungkapan inilah yang mewakili lidah yang kaku.
Pulang! Itu yang akan terjadi dan seharusnya terjadi. Tapi dengan apa aku akan pulang? Masihkah dengan kebodohan? Atau dengan sifat kekanak-kanakan? Tak cukupkah Kairo membuatmu tumbuh besar dan dewasa?
Entahlah, semakin lama aku tinggal disini, semakin bodoh. Banyak hal yang belum aku ketahui. Semakin dalam aku menyelam, semakin indah yang kurasakan.

Kairo, kota tua dengan segudang khasanah keilmuan. Pantas saja jika orang yang kesini harus menyiapkan keikhlasan dan memanfaatkan kesempatan.

Lalai beberapa saat saja, berapa ilmu yang terlewatkan.
Jangan biarkan Kairo berlalu begitu saja. Ia dengan senang hati membiarkanmu singgah. Tanpa pamrih ia berbagi berkah.
Kairo, jangan biarkan aku lalai dengan pesonamu.