Berharap- tidak- berharap- tidak. Entah sampai kapan hati ini berbolak-balik. Mencoba melupakan rasanya tak mungkin, untuk sedikit menghilangkan bayangnya saja harus berpura-pura amnesia.
Padahal, lain dulu lain sekarang. Akupun harus bertanya dalam-dalam, siapa aku? siapa ia? ada apa denganku dan dirinya? Dan rasanya tak perlu dijawab.
Aaaah, biarkan saja! Itu pilihannya; tak seharusnya aku mencari tahu. Barangkali itu pilihannya.

Ku inginkan kesendirian, namun kau tak demikian. Sedikit saja tak diperhatikan kau anggap aku yang lalai. Padahal aku tak mungkin menerjang curamnya sebuah aturan.
Aku terus berharap, namun tak lagi cemas. Karena ku yakin semua akan ada pada apa yang Ia gariskan.
Saudaraku, semoga Allah membimbing kita. Amin.