Kalau belum terbiasa, tarawih di Mesir akan terasa sangat lama. Hampir setiap imam membaca satu juz tiap malamnya. Namun jika ada yang keberatan dan merasa capek dengan shalat tarawih yang lama, masjid Indonesia Kairo bisa jadi solusi. Imam yang rata-rata dari kalangan mahasiswa Al-Azhar asal Indonesia biasanya hanya membaca surat-surat pendek. Jadi bisa disimpulkan, tarawih disana terbilang cepat.
Malam ini  saya diajak oleh seorang teman untuk melaksanakan shalat tarawih di MIC (masjid Indonesia Cairo). Saya bergegas menuju bilangan Dokki tepatnya di Mosaddak St. Shalat tarawih disini lebih kental dengan nuansa ke-Indonesiaanya. Terlebih para jamaah juga hampir semuanya adalah warga Indonesia. Masjid yang lumayan besar ini biasanya disesaki oleh para staf KBRI dan sebagian mahasiswa Al-Azhar.
Fasilitas mobil jemputan dan hidangan makanan gratis usai shalat tarawih nampaknya menjadi motivasi lain yang mengundang jamaah untuk shalat di MIC. Belum lagi keuntungan silaturrahmi langsung dengan duta besar Indonesia, Kombes Pol (Purn) Nurfaizi Suwandi. Paling tidak, moment sepeti inilah yang sedikit mengobati rasa rindu dengan suasana Ramadhan di tanah air.