Setelah hampir satu setengah tahun kekuasaan ada ditangan militer, akhirnya Mesir kini dipimpin langsung oleh seorang Presiden. Presiden baru yang terpilih dari hasil pemilu dua putaran ini resmi dinyatakan kemenangganya oleh lajnah pemilu secara langsung. Ditayangkan diberbagai stasiun televisi lokal maupun luar negeri. Putaran pertama, Mesir dengan tiga belas putera terbaiknya berhasil menyaring dua yang memperoleh suara terbanyak. Ahmed Shafiq dan Mohammed Morsy lolos ke putaran kedua.  Setelah sebelumnya dinyatakan lolos ke putaran kedua pemilu Mesir, akhirnya DR. MOhammed Morsy memenangkan pemilihan umum yang pertama kali digelar di Mesir ini dengan jumlah perolehan suara sebesar 13230131 suara (51.7 %). Sedangkan Ahmed Shafiq meperoleh 12347380 suara ( 48.3 %). Meski selisil diantara keduanya tak begitu jauh dari segi persentase namun cukup banyak suara yang menuntut Ahmed Shafiq harus mengakui keunggulan rivalnya itu, yaitu sebanyak 882751 suara.

Mohammed Morsy – Ahmed Shafiq

Sedikit mengamati perjalan pemilu kali ini. Dalam hemat saya, secara tertulis Morsy-lah yang telah memenangkan pemilu kali ini namun secara taktik Ahmed Shafiq jauh lebih bisa diunggulkan. Mengapa? Paling tidak dengan mengamati selisih keduanya yang hanya tiga persen. Padahal Ahmed Shafiq merupakan salah satu calon yang sosoknya banyak ditentang mayoritas warga Mesir dengan tudingan sebagai antek Rezim Mubarak. Namun dengan tudingan seperti itu malah hampir saja Shafiq bisa mengimbangi suaru Morsy yang sejak awal dijagokan. Saya sendiri mulanya memperkirakan Morsy akan meperoleh lebih dari 80 % suara. Pada kenyataannya tidak demikian. Analisa sempit yang saya lakukan jelas jauh diluar dugaan. Hal ini malah menimbulkan ketimpangan pendapat. Harusnya dengan pencitraan Morsy yang jauh lebih matang dan tudingan miring terhadap sosok seorang Shafiq keduanya akan bertengger dengan selisih yang sangat jauh. Apalagi jauh-jauh hari Shafiq sudah dicap sebagai Fulul (Rezim Mubarak) yang sangat tidak diharapkan rakyat Mesir.

DR. Morsy di Aceh (2005)

Namun itulah politik, saya harus belajar banyak tentang hal ini. Tak ubah seperti bermain bola di lapangan hijau, segala kemungkinan serba mungkin terjadi. Bahakn sering sekali timbul persepsi bahwa tim yang underdog itu pada kenyataannya jauh lebih berpeluang untuk menang karena bermain tanpa beban dan tekanan. Layaknya bermain bola, berpolitik pun mungkin tak jauh berbeda. Shafiq yang terlihat lebih santai dan lebih sering dikucilkan dengan predikat fulul nyatanya hampir mengimbangi suara rivalnya.

Allohu a’lam. Saya hanya berharap agar presiden baru ini benar-benar bisa mengayomi masyarakat Mesir yang sejauh ini masih terombang-ambing pasca ledakan tsaurah 25 Januari silam. Allahumma ihfadz misr wa saaira bilaad -l-muslimin, Amin.

#merenungi peran penting politik