Ranah 3 Warna

Pantas jika Al-Quran memerintahkan manusia dalam wahyu pertamaNya, Bacalah! Banyak hal yang didapat dengan membaca. Salah satu diantaranya adalah semanagat hidup yang akhir-akhir ini banyak menyelinap dan menghilang dari badan tegap sekalipun. Padahal keberadaan semangat hidup sangat mendorong seseorang untuk bisa menikmati dan menghayati hidup. Ada banyak buku yang bisa dibaca guna memancing semangat hidup yang dimaksud.

Alhamdulillah, aku menghabiskan waktu seharian ini dengan sebuah buku karya Bang Ahmad Fuadi. Ranah 3 Warna. Melihat judulnya saja aku sudah sangat penasaran, paling tidak pertanyaa membabi buta muncul dibenakku. Apa saja isi ceritanya, siapa dan bagaimana kejadiannya. Benar saja, setelah kubaca dengan penuh rasa penasaran, buku ini banyak menginspirasi dan menambah kuat semangat hidupku.

Pada buku pertamanya, Negeri 5 Menara, Bang AF menceritakan gambaran kehidupan di pesantren. Aku sudah sangat respek dengan buku itu. Bahkan aku yang kebetulan hadir pada launching buku pertamanya di Al-Azhar-Jakarta langsung menyergap buku itu lengkap dengan tanda tangan penulis. Photo bareng juga tak aku lewatkan. Kebetulan saat itu ada banyak teman-teman yang ikut karena acara launcing buku juga bagian dari acara Silaturahmi Akbar Alumni Pondok Modern.  Bahkan dalam kesempatan itu hadir beberapa tokoh penting  seperti diungkapkan dalam novel tersebut. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, KH. Hasan Abdullah Sahal selaku pimpinan pondok modern Gontor. Duduk bersampingan bersama beliau, KH. Mahrus Amin, pimpinan pondok modern Daarun Najah dan KH. Hidayat Nur Wahid serta Menpora, DR.  Adhiyaksa Dhault. Aku bahagia bisa turut hadir ditengah tokoh nasional yang juga kebangga ummat seperti para pimpinan pesantren ini. Kebahagiaan itu semaki lengkap dengan suguhan istimewa karya salah satu putera terbaiknya, Bang Ahmad Fuadi (Negeri 5 Menara) yang juga sahabat dari pembimbing yang memberangkatku ke Mesir ini.

Buku itu sangat menarik dengan isi yang sangat kental nuansa kehidupan pesantren. Tidak berhenti disana, ternyata di buku keduanya ini (Ranah 3 Warna) Bang AF kembali mendeskripsikan nilai-nilai religi buah dari pengalamanny selam mondok di pondok madani seperti diceritakan dalam novel. Ia membawa misi dakwah sampai ke negeri yang ia pijak. Ranah 3 Warna menjadi medan dakwah yang ia sampaikan dalam bentuk karya yang digariskan pena. Beberapa negara menjadi latar cerita tersebut.

Buku ini sangat menginspirasi, jujur aku tak sedang promo atau sekadar memberikan testimoni. Lebih dari itu aku merasakan manfaat yang luar biasa. Terlebih dengan kesamaan kondisi yang sama-sama alumni pondok, lebih paranya lagi aku hanyalah jebolan pondok salaf / tradisional. Dengan kehadirannya, aku menjadi menemukan banyak hal dan perlahan menutupi prasangka banyak orang yang mengira bahwa lulusan pesantren hanyalah menguasai mushala lengkap dengan penghukuman “masa depan suram” alias madesu. Novel ini membantu menjelaskan bagaimana pendidikan pesantren seharusnya dibanggakan dengan penerapan nilai religi yang terkandung didalamnya.  Bahkan lebih terangnya lagi, disini mengisahkan seorang lulusan pondok yang sukses dengan segudang prestasi. Hal ini juga diharapkan bisa menjadi motivasi khususnya bagi kalangan santri  untuk selalu berhusnudhan dan selalu optimis dengan setiap tantangan masa depan.