Imam Masjid Al-Azhar, Mesir

 Alhamdulillah, lama tak mendengar suara khasnya– akhirnya beliau kembali mengisi khutbah Jum’at. Syaikh ‘Ied Abd el-Hamid, beliau adalah salah satu syaikh yang menjadi Imam di Masjid Al-Azhar. Selain sosoknya yang sangat menjadi panutan, suaranya yang khas menjadi alasan aku begitu kagum pada beliau. Bahkan ketika aku pulang ke Indonesia, suaranya ketika ia memimpin kami sholat berjamaah selalu terngiang. Aku sering berdecak kagum jika membayangkan bagaimana syaikh melafalkan bacaan Al-Quran dengan begitu fasih. Hal serupa juga diungkapkan oleh salah seorang kakak seniorku yang sudah tuntas melaksanakan studi dan bermukim di tanah air. Ia mengatakan rasa rindunya dengan suara khas Saikh ‘Ied.

Masih hangat dalam ingatanku ketika aku baru datang ke Mesir  dan sholat Isya di Masjid Al-Azhar. Beliau imam sholat pertamaku di Masjid bersejarah ini. Saat itu pula aku ingin selalu menirukan gayanya melafalkan Al-Quran. Begitu indah, lebih dari sekadar merdu. Selesai sholat aku langsung bertanya kepada kakak pembimbingku. “Kak, siapa nama imam sholat isya tadi? suaranya begitu enak didengar!”. Rupanya ini rasanya jatuh cinta pada “pandangan” pertama. Lebih tepatnya pada pendengaran pertama, hehe… Kakak seniorku tadi menyebutkan nama beliau. Dari sana aku mulai mengetahui siapa imam yang aku kagumi ini. “Nanti kalau kamu sudah tidak di Mesir, pasti kamu akan merasa rindu dengan suara khas syaikh ‘Ied” Tegas kakak. Aku hanya menanggapi seperlunya.

Benar saja, ketika pulang– aku ingin segera kembali ke Mesir untuk sekadar sholat berjamaah dan menjadi makmum syaikh ‘Ied. Ketika sudah agak lama di Mesir, aku mulai berani mencium tangan beliau selepas shalat. Aku selalu memintanya untuk mendoakan agar aku bisa mendapat ilmu yang bermanfaat dengan belajar di Al-Azhar ini. Bahkan ketika menghadapi ujian beliau mendoakanku agal lama dan meminta aku mengaminkannya, padahal saat itu kami berada di pintu keluar dari dhillah fatimiyyah (Bagian dalam Masjid Al-Azhar). Beliau mengusapkan tangannya dikepalaku. Aku merasa bahagia dan merasa sangat tenang setelah syaikh mendoakanku yang lebih khusus untuk mengahadapi ujian.

Sudah hampir setahun ini beliau tak sesering dulu menjadi imam. Mungkin beliau sedang sakit, aku mengira demikian karena kondisinya yang tak muda lagi dan ketika ceramah pun beliau sering batuk ringan. Nampaknya memang benar-benar sakit. Kali ini Syaikh Zakaria dan Saikh Abdullah yang lebih sering menggantikan perannya menjadi imam. Aku selalu mendoakan agar beliau dipanjangkan umur dan diberi kesehatan dan kehidupan yang selalu berkah. Aku dan mungkin banyak diantara saudaraku yang muslim sangat memerlukan kehadiran sosok seperti beliau. Apalagi beliau sangat terkesan ramah dan begitu rahmah kepada jamaah.

Tak heran jika aku sangat merasa senang dengan kehadiran beliau di mimbar khutbah Jum’at kali ini. Aplagi beliau tampak lebih energik dari biasanya. Beliau sudah benar-benar sembuh dan mudah-mudahan selalu diberi kesehatan oleh Allah SWT. Muqaddimah yang disampaikan juga sangat enak didengar. Beliau membawakan khutbah dengan suara yang agak sendu tetapi benar-benar mengena dan sampai ke telinga hadirin yang mengikuti khutbah.

Yaa Allah, Kumpulkanlah kami dengan orang-orang shalih. Amin…