Aku berharap inilah ujian terakhir. lho… memang kenyataannya ini ujian terakhir. Tapi maksudku tak sesempit itu, Aku berharap ini ujian terakhir ditingkat tiga dan selanjutnya aku bisa melanjutkan studi ditingkat akhir. Amin… Dengan begitu tuntas sudah delapan semester, kontrak sarjanaku dengan Al-Azhar. Selama ini memang aku tak mengalami hal “kurang mengenakkan” seperti yang dialami teman-teman yang lain. Harus mengalami penundaan beberapa tahun dan memperpanjang kontrak dengan Al-Azhar.

Ujian kali ini mempertaruhkan keyakinan. Materi yang sudah dipelajari ini harus kuulang dalam keadaan yang sangat tidak mendukung. Aku tengah sakit dan kehilangan konsentrasi. Jangankan untuk menghafal hadits, untuk sekedar membacanya pun aku butuh perjuangan yang tak mudah. Badan yang mengigil membuatku sulit melewati halaman demi halaman yang harus kubaca dan kupahami.

Sehari sebelum ujian memang sudah kurasakan demam yang tak tertahan. Makanya aku tak bisa berharap banyak selain yakin dengan apa yang Allah kehendaki. Memaksakn untuk tetap membaca juga sudah kulakukan tapi nyatanya hanya mengurangi waktu istirahat yang sebenarnya lebih aku butuhkan. Saat ini tubuhku sulit kuajak kompromi. Rasa lemasnya menuntuk aku untuk memanjakannya walau hanya dengan istirahat biasa.

Malam hari sebelum ujian aku paksakan untuk tidur lebih awal. Niatnya supaya bisa bangun lebih awal. dan.. Alhamdulillah aku bangun diwaktu yang masih sepi. Ini kesempatan baik untuk mengulang bacaan dan hafalan meski pusing tak juga hilang. Paling tidak aku bisa mengingat isi dari buku yang kupelajari. Sampai pagi menjelang aku masih bisa bertahan dengan kondisi tubuh yang tidak fit. Namun kehendak Allah memang luar biasa. Untuk materi sepuluh bab yang biasannya terasa berat, kali ini aku merasakan sebaliknya. Mudah sekali memahami sepuluh bab ini– padahal badanku sedang tidak sehat.

Kuasa Allah tak bisa diingkari, namun jika saja aku diizinkan mencari wasilahnya, kenapa aku merasa mudah mempelajari sepuluh bab materi hadits dalam keadaan sakit. Mungkin salah satunya adalah karena materinya yang sangat menarik. Tujuh diantara sepuluh bab yang dibahas isinya adalah tentang NIKAH. Mulai dari anjuran Rasulullah kepada pemuda-pemudi untuk mensegerakan menikah sampai pada pembahasan adab-adab pernikahan, salah satunya mengenai dosa seorang istri jika menolak -keinginan- suami untuk “tidur” bersamanya.

Aku dibuat tersenyum meski dalam kondisi tidak sehat. Yang lucu adalah ketika aku membayangkan membagi ilmu yang kupelajari ini kepada istriku kelak. Hmmm… Entah dari arah mana pikiran itu menyambar. Yang jelas aku menjadi termotivasi untuk memperdalam materi ini dan bukan karena ujian saja. Jauh dari itu aku ingin mengamalkannya untuk berumah tangga nanti. Bahasan tentang nikah ini memang selalu memancing semangat yang luar biasa sampai aku lupa dengan rasa sakit dan demam yang melanda, hmmm… Apalagi orangtuaku selalu memintaku untuk segera menyelesaikan kuliah dan segera pulang ke tanah air lalu ………🙂

Intinya, Alhamdulillah meski dalam kondisi yang kurang mendukung aku masih bisa mengisi soal ujian yang kurasa sesuai dengan apa ada didalam diktat. Semoga keyakinan ini berbuah manis dan aku bisa menyesuaikan antara rasa optimis dengan hasil yang sebenarnya terjadi. Semoga ujian kali ini tak perlu pengulangan lagi dutahun berikutnya…

Bulan depan masuk semester tujuh, tahun depan selesai strata satu, langsung ke tanah suci dan pulang ke tanah air, Amin……………🙂 (mohon doanya ya!)