Hari ini aku dipaksa menjadi seorang muthashowwif. Senang dengan pelajaran yang satu ini. Dulu waktu tahun pertama– tahun kedua juga, belajar tashawwuf akan penuh kebingungan. Aku selalu merasa bosan dengan kuliah yang berkutat dengan materi berkenaan dengan tashawwuf. Sampai pada akhirnya Allah anugerahkan rasa senang belajar tashawwuf.

Satu hal yang membuat saya kurang suka dengan pelajaran tashawwuf (dulu). Tidak sedikit ulama yang menolak keberadaanya karena dinilai mengada-ada. Bahkan cenderung dianggap sejalur dengan filsafat yang bisa menyesatkan. Belakangan aku diajak mendalaminya lagi dengan penyeimbangan materi yang membandingan beberapa ilmu dengan ilmu tashawwuf. Ternyata filsafat yang sejalur dengan tashawwuf bukan sembarang filsafat. Filsafat islami-lah yang dimaksud. Kenapa demikian? karena tashawwuf tidak melulu mengedepankan pemikiran gaya filsuf yang dengan enteng mengandalkan akal saja. Atau mungkin memukul rata tashawwuf dengan ilmu kalam yang tak lain adalah ilmu filsafat + retorika berpikir yang seperti “logis”.

Tashawwuf tak berarti menafikan peran akal. Tetapi menuntut kita berpikir dengan akal yang didasari kekuatan hati pada dalil nakli. Jadi bisa dipastikan akan selamat dengan tuntunan Al-Quran dan Sunnah yang menjadi landasannya. Keduanya juga menjadi Mashadir asliyyah yang melandasi tashawwuf itu sendiri.

Bagaimana dengan ujiannya? Karena aku sudah mulai senang bahkan tertantang untuk menguasainya, walhasil, aku tak terlalu sulit memahami materi ini. Ketika ujianpun aku dengan mudah memahami dan mengerjakan soal. Semoga Nilai yang dihasilkan juga menyenangkan seperti rasa senangku pada ilmunya.🙂
#Girang dengan kondisi praselesai

Mohon tak bosan mendoakan kami yang sedang ujian ya para pembaca! 🙂
haturnuhun!