Ujian yang sangat melelahkan. Bukan hanya karena madah asasi, tapi juga butuh kesabaran dalam memahami diktat yang semuanya mukarar. Dosen juga nampaknya tak mau bermain-main dengan materi ini, terlebih kami yang mengikuti ujian adalah mahasiswa yang telah memasuki konsentrasi khusus dibidang tafsir. Selain metodologi, hafalan pengetahuan mengenai surat-surat bahasan diktat juga harus difahami secara detail. Hal ini menjadi penunjang untuk menjadi Mufassir yang handal.

Empat soal yang dikeluarkan cukup menguras otak dan kesabaran. Hanya tiga jam waktu yang diberikan nampak terasa kurang. Keempat pertanyaan tersebut mewakili hampir setengah materi yang diberikan. Namun, Alhamdulillah… dengan penuh konsentrasi aku berusaha menjawab sebaik mungkin. Mudah-mudahan hasilnya memuaskan dan menggembirakan.

Rasanya pengalaman yang hampir sama juga dirasakan oleh kawan-kawanku satu fakultas. Mereka yang kuliah jurusan hadits juga mengerjakan soal yang bermuatan madah asasi. Berat memang, tampak dari raut wajah yang terlihat kurang cerah dari para peserta ujian usai melaksanakan tugas berat ini.

Ala kulli haal, kami selalu berharap yang terbaik dan berharap apa yang telah dipelajari bisa bermanfaat bagi ummat. Amin🙂