Dua tahun silam. Masa dimana ukiran keindahan itu aku alami. Rasanya seperti sayatan tapi perlahan aku mulai sadar itu adalah tanda sebuah kemekaran. Itu bukan siksaan, yang pasti adalah awal mula sebuah kenikmatan. itu juga bukan peristiwa penyiksaan, setelah itu akan dirasakan indahnya arti perjuangan.

Juli dua tahun yang lalu, namaku tercantum sebagai salah satu thalib atau pelajar yang mengikuti sebuah program -menghafal Al-Quran- di Giza. Kota ini tempat dimana piramida berada. untuk menempuhnya aku butuk kesabaran dengan jarak yang tidak dekat. Bayangkan, sekeluarnya dari rumah aku harus beberapa kali berganti kendaraan. Mulai dari menumpang sebuah taksi– menuju stasiun, aku harus menghabiskan waktu tiga perempat jam diatas metro (kereta bawah tanah). Belum lagi menaiki tramco -angkutan kota ala Mesir- sampai tuktuk (bajajnya Mesir). Keluar masuk angkutan juga berjalan kaki, begitulah perjalanan yang harus dilaui untuk menempuh sebuah tempat dimana aku akan menemui syaikh– Guruku menghafal Al-Quran.

Tak cukup dengan ujian perjalan yang jauh, aku juga harus bersabar dengan makanan baru yang harus disantap. Gubnah, keju yang tak ditemui selain di Mesir ini harus masuk kelambungku sebagai menu sarapan. Lidahku juga harus rela menerima ‘Isy yang tak segar lagi. Kadang aku harus melupakan nikmatnya masakan pamanku dirumah untuk sekedar menerima makanan yang ada.

Aturan, selalu menjadi bahan kekecewaan (pada saat itu). Hafalan dua kali seperdelapan juz atau yang lazim disebut Rubu’ ini menantiku setiap harinya. Tekanan itu semakin berat ketika tiba bulan suci Ramadhan. Dali sebagai bulan Al-Quran lantas aturan menjadi setengah jusz (hafal perhari). Aku saat itu merasa kecewa dan merasa tak sanggup. Sudah cukupmenahan lapar, tak perlu ditambah beban menghafal.

Tapi… Guruku tak melepaskan perhatiannya untuk menyemangati para pengahafal Al-Quran ini. Dari lisannya kami terus bangkit, kami semakin sadar akan kemuliaan Kitab Suci ini. Beliaulah orang tua kami yang selalu membimbing untuk tetap istiqamah dalam perjuangan yang tak ringan ini. kata-katanya begitu menyentuh hati, membuat semangat ini tetap baru. Beliaulah yang namanya -hingga kini- terpatri dalam sanubari.

Sahabat, aku tak mungkin melupakan keberadaanya. Merekalah rekan seperjuangan yang saling menguatkan. Kekita semangat menipis mereka rela membagi semangat agar kami tetap bertahan.Keberadaanya menjadi warna kehidupan yang sangat menyejukan. Aku bangga denga kalian.

Menghafal Al-Quran bukan hal yang mudah, terlebih untuk aku yang tak berbahasa arab. Sulit menghafal karena kesulitan memahami makana Al-Quran. Namu inilah janji perjuangan. Siapa yang benar-benar berjihad -dengan menghafal Al-Quran- maka Allah janjikan kemuliaan.

Aku kembali mengingat peristiwa indah itu. Terlebih dengan kehadiran sahabat yang kini sudah mewarnai dunia dengan sejuta karyanya. Bang Indra, seniorku saat mengahafal Al-Quran yang tak lain adalah juara MTQ internasional, kini menjadi imam besar masjid agung Rokan Hulu, Riau. Shefik Sadiku, teman asal Albania yang menjadi imam dibeberapa negara dengan kekuatan hafalannya. Ahmed Elhassan, warga Amerika yang mengenal jauh tentang Islam dan menghafalkan kitab pedoman. Mereka hanyalah sebagian dari siapa-siapa yang telah memnggadaikan hidupnya demi Kitab Allah. Dan suatu saat -aku yakin- kita akan dipertemukan dengan impian membanggakan yang dicita-citan.

Tunggu kabar baik dan ukiran kesuksesan kami.

Daurah Tahfidz Al-Quran, markaz Ibn Dzahabi – Giza, Mesir

Bacaan Syaikh Shefik Sadiku (Alumni Daurah Tahfidz Al-Quran, Markaz Ibnu Dzahabi-Giza. Kairo)