Hari ini yang merupakan hari berkah– jumah mubaarokah, nampaknya juga merupakan hari galau sedunia. (Lebay… hehe). Kenapa? Dalam khutbah yang aku dengar di masjid Al-Azhar, Syaikh ‘Ied Abd el-Hamid, salah satu imam masjid yang juga menjadi khatib menyatakan beberapa hal tentang pemilu presiden Mesir. Beliau berkhutbah tentang sosok pemimpin yang dianjurkan dalam Islam. Beberapa point menjadi catatan penting yang harus diperhatikan perihal memilih pemimpin.

Begitu keluar jumatan terlihat beberapa orang membagikan selebaran yang nampaknya tentang pemilu presiden. Bukan hanya itu, ada beberapa orang yang terlihat sedang berdebat dengan yang lainnya– topiknya -pun- tentang pilpres. Di pintu masjid saja ada yang berteriak lantang menyuarakan sikapnya dalam… lagi-lagi pilpres.

Penyebab galau– sampai dikategorikan hari galau sedunia, haha? secara pribadi, aku tengah mengalami kegalauan yang luar biasa bengan kehadiran beberapa masalah yang akhir-akhir ini memperindah hidupku. Begitupun warga mesir yang juga tengah bingung memilih siapa yang pantas menjadi pemimpin mereka beberapa tahun kedepan. Aku beberapa kali mendengar pernyataan sikap Masriy (sebutan untuk orang Mesir) dalam pemilu kali ini. Bahkan kini jadi hot tread yang nampaknya layak diberi cendol, #lha kok?.  Hampir disetiap pojok tempat masriy berkumpul, bahasannya tak lain adalah tentang “intikhabat” alias pemilu.

Mohammed Morsy – Ahmed Shafiq

Rata-rata permasalahan yang membuat mereka bingung -dalam opiniku- adalah tentang sosok kedua calon presiden yang maju keputaran berikutnya, Ahmed Shafiq dan Muhammad Morsy. Keduanya lolos ke putaran kedua setelah menumbangkan sebelas calon lainnya, antara lain calon kuat seperti Abd el Monim Abo al-Futuh, Hamdeen Sabahi dan ‘Amr Mousa. Lolosnya Morsy sudah bisa diprediksi sejak awal karena memang suaranya begitu menggelegar dengan dukungan penuh jam’iyyah Ikhwanul Muslimin. Berbeda dengan kemunculan Ahmed Shafiq yang semula tak dijagokan di Pilpres Mesir ini. Fulul— atau termasuk rezim Hosni Mubarak inilah yang menjadi alasan sebagian masyarakat mengesampingkan Ahmed Shafiq. Namun, inilah politik, tanpa diduga justru Ahmed Shafiq-lah yang maju menjadi rival Muhammad Morsy.

Beberapa opini masyarakat yang sempat kudengar antara lain; mereka tak menemukan sosok yang berada digaris tengah. Morsy dengan karakter ke-Islamannya yang kuat oleh sebagian kalangan dinilai terlalu ekstrim. Sedang Shafiq, kemampuan akan siyasah diharapkan bisa membantu Mesir menjadi lebih baik, namun ia merupakan salah satu “pemegang” rezim Hosni Mubarak. Pantas saja masyarakat dibuat puyeng, Beberapa opini sempat muncul. Kalau saja ada sosok seperti hamdeen Sabai atau Abo el-Futuh diantara keduanya– mungkin akan menjadi suatu alternatif yang sedikit menenangkan.

Tapi, ‘ala kulli haal. Segala permasalahan yang kini dihadapi, oleh warga Mesir khususnya– tak lain hanyalah suatu proses kehidupan yang menuntut “sang pejuang hidup” bertindak bijak menyikapinya. Beberapa solusi bisa dilakukan, misalnya dengan berkonsultasi kepada mereka yang dinilai mumpuni dibidangnya atau sekedar share dengan warga lainnya. Tak melulu harus terjadi adu mulut atau bahkan bentrokan yang tidak perlu. “Udkhuluu misra insya Allaahu aaminiin…”. Allah telah anugerahkan jaminan keamanan atas bumi kunanah.

 Allahumma -hfadz masr wa  bilaadi al-muslimiin. Amin