Sudah bukan waktunya memilih jika sesuatu yang ada diantara pilihan itu berkaitan dengan keyakinan. Sudah tentu keyakinan akan lebih diutamakan. Tapi aku erasa perlu mempertimbangkan klarifikasi atas sebuah keinginan. Walau pada hakikatnya aku akan mementingkan keyakinanku.

Sebagai manusia biasa, aku puna keinginan layaknya manusia yang lain. Dalam hal ini kaitannya dengan memilih pasangan hidup. Aku punya kriteria tersendiri untuk hal yang satu ini. Aku tak mau gegabah memilih untuk urusan yang menentukan masa depanku ini. Aku tentu berharap yang terbaik untu masa depanku. Terlebih orang tuaku selalu menghimbaudan memantau dengan detail pemasalahan ini.

Aku masih ingat ungkapan beliau (Baca : bapak) ketika aku meminta saran mengenai pendamping hidup. Tak banyak perkataan yang diungkapkan, belaiau hanya membawa sebuah kitab dan membukakan halaman yang didalamnya terdapat sebuah hadits mengenai Ihktiyar Az-zaujah. Aku turut mengamati, setelah sama-sama melihat isinya- mula-mula kami saling bertatapan dan tersenyum. Begitu cara orang tuaku memberi pencerahan atas pertanyaanku. Ia hanya menekankan pada ungkapan “Fadfar bidzaati ad-din…”. Beliau juga menambahkan (dalam bahasa Sunda), Kalau bisa carilah istri yang satu “dunia” dengan kita, paling tidak ia benar-benar bisa mendampingi perjuangan kita.

Sejenak aku seperti memotong pembicaraan dengan sebuah pertanyaan, “karena rumah tanggaku juga menyangkut keluarga kita, Bapak punya kriteria seperti apa untuk mantu?”. Dengan santai beliau menjawab pertanyaanku dengan taburan senyum : “yang dicintai” . Aku kembali tersentak, bukannya bapak memperingatku untuk memilih calom pendamping yang mengerti agama?. Bapak melanjutkan penjelasannya : “Bapak yakin aa tidak mencintai seseorang dengan gegabah– akan penuh pertimbangan, paling tidak aa sudah cukup mengerti dilingkungan seperti apa kita hidup, dan kebutuhan apa saja yang kita perjuangkan!” Aku kembali tersenyum mengimbangi kegalauan yang dirasa.

Aku faham bagaimana orang tuaku begitu memberikan keleluasaan dalam memilih psangan hidup. Tapi itu tak terlepas dari tuntutan yang akan aku pikul. Dengan bebas ia memberikan kesempatan kepadaku untuk memilih– dengan ketentuan yang ia percayakan padaku.

Aku kembali harus berpikir keras. Harus berhati-hati! Saat itu, aku  dengan berani menyebutkan beberapa yang sudah aku ketahui tentangnya. Aku sebutkan karakter masing-masing. Lagi-lagi bapak tersenyum. “Silakan pilih sesuai keyakinan” tandasnya.

Lalu aku menyarankan seseorang “Bagaimana kalau ….. ia orangnya begini dari keturunan ini prestasinya seperti ini rumahnya di….” Bla… bla… aku jelaskan serinci mungkin. Bapak berkata : “ya, mungkin pilihan yang tepat, tapi masih banyak waktu untuk berpikir tentang itu, mungkin masih bisa mencari yang lebih cocok, bisa mencari yang lebih sesuai dengan keinginan dan kebutuhan yang kita yakini. Silakan manfaatkan waktu saat ini untuk yang lain dulu” . Gubrak… aku terdiam dan tersadar jika saat itu aku masih belum bisa dikatakan dewasa.

Saat ini aku kembali mengingat masa itu. Ingin sekali aku berbicara panjang lebar tentang hal itu, rasanya ini waktu yang tepat– waktu yang aku sendiri sudah merasa cukup dewasa untuk membahas tentang itu. Mudah-mudahan aku segera bersua dengan kedua orangtuaku yang tak lelah membimbingku dalam setiap langkah yang aku lalui.

Aku berharap dari lisannya keluar pilihan yang tepat untuk pendampingku nanti. Paling tidak beliau akan dengan matang memikirkan dan memberi saran yang terbaik. Kendati dalam jarak yang jauh pun beliau selalu mengingatkanku walau hanya dalam sebuah pesan singkat.

Aku dihadapkan pada permasalahan yang menyangkut apa yang ada dihati ini. Walau selau kuharapkan hati ini tak salah memposisikan mana keyakinan dan mana keinginan. Sedang aku selalu ingin mengedepankan apa yang aku yakini daripada apa yang aku inginkan.

(Dan saya yakin pembaca akan bingung karena isi cerita yang ambigu, alhamdulillah… hanya saya dan orang terdekat yang mengerti hal ini dalam naungan pengethuan Allah yang tanpa batas🙂 )

#tidak diizinkan menduga-duga😀

Dalam bingung,
Kairo, 1 Juni 2012