Mata kuliah yang satu ini tak terbilang sulit menurutku. Aku tinggal menghafal beberapa hal yang masih baru. Isinya tentak bagaimana dan pa yang harus dilakukan seorang Da’i.  banyak sekali yang aku bisa ambil dari buku yang cukup tebal ini. Meskipun lebih mengedapankan praktek, aku tak boleh main-main dengan ujian tulis tentang mata kuliah ini. Apalagi kabarnya, tak sedikit mahasiswa yang harus rela mengulang tahun berikutnya karena tersangkut mata kuliah yang satu ini.

Bismillah, aku tak hanya meniatkan belajar ini untuk ujian saja. Jauh daripada itu aku harus benar-benar bisa mengamalkan apa yang sudah dipelajari dari diktat yang sarat ilmu ini. Kebutuhan bangsa Indonesia khususnya terhadap seorang Da’i berada pada titik utama. Harus banyak merekan yang sudi dan berjuang keras menyampaikan syiar Islam. Terutama dengan latar belakang keagamaan yang disanding, tentu ini menjadi fardu ‘ain.

Aku sangat berbangga dengan munculnya fenomena Da’i Muda. mereka dengan gencar menyuarakan Islam sampai ke pelosok negeri. Bahkan salah satu da’i muda yang namanya sudah mulai dikenal adalah teman satu almamater. Da’i Irfan Anshari, salah satu warga Jawa Barat ini berhasil memperkenalkan almamaternya kepada khalayak banyak.  Dengan dakwahnya yang khas dan sekilas mirip Aa Gym ia berhasil memotivasi khalayak untuk lebih mengenal Islam, Subhanallah.

Memang pada dasarnya dakwah itu adalah praktek, begitu dikatakan dosenku, DR. Sayyid Abu Al-Guud. Namun bukan berarti kita melupakan teori dan materi inti yang terkandung didalamnya. Apalagi menjadi da’i bukan sesuatu yang mudah. Disamping mengedepankan lisanul haal atau keteladanan juga dituntut cakap dalam berkomunikasi publik.

Ala kulli haal, alhamdulillah… ujian materi ini telah kujalani. Tinggal bersiap dengan materi selanjutnya yang tak kalah greget. Harus dibantai habis-habisan sampai bisa mengantarkanku pada puncak prestasi yang membanggakan. Amin…

mohon doa rekan-rekanita pembaca untuk kemudahan ujian kami disini. Terimakasih🙂