Yaskur in Wurzburg-German

Adalah Yaskur, teman yang harusnya kuanggap kakak namun dengan sukarela menganggapku kakak. Usianya memang lebih pantas untuk kupanggil kakak, namun ia sendiri lebih senang menyebutku kakak. Mungkin karena di kampus ia memang adik kelasku. Secara pribadi aku merasa canggung untuk memanggil nama layaknya teman sebaya atau yang usianya lebih muda. Apalagi ia adalah adik dari kak Akhyari, pengasuh dan yang membimbingku di Dai Nada, tentu aku sangat merasa segan.

Namun, alhamdulillah– silaturahmiku dengannya semakin tertaaut erat. Ia bahkan menjadi bagian dari keluarga apartemenku meski hanya saat musim ujian. hehe… Ya, akhir-akhir ini menginap dan tinggal di rumah sederhana sewaanku dan teman-teman. Alasannya adalah supaya fokus belajar dan berada tak jauh dari kampus– mengefektifkan waktu.

Rata-rata mahasiswa yang tinggal di kawasan Hayy ‘Asyir memang membutuhkan perjuangan khusus untuk bisa berangkat ke Darrasah, tempat dimana kampus Al-Azhar putera berada. Mereka harus rela bergelayutan di bis untuk sekedar sampai di Darrasah. Bahkan banyak diantara mereka yang harus mengeluarkan biaya besar untuk menyewa taksi ke kampus.

Ujian yang tak seperti biasanya mungkin  menjadi alasan banyaknya mahasiswa yang ikut tinggal di rumah teman di kawasan Darrasah. Bayangkan, mereka yang tinggal di Hayy ‘Asyir , tempat mayoritas mahasiswa Indonesia tinggal, harus menghabiskan waktu kurang lebih satu setengah jam untuk berangkat ujian. Tentu akan banyak waktu yang tidak efektif dimanfaatkan. Padahal, biasanya mereka kembali harus  murajaah di masjid Al-Azhar untuk kemudian ke kampus dan melaksanakan ujian.

Belajar bareng atau belajar efektitif memang layak dilakukan di masjid Al-Azhar. Suasananya yang tenang membuat mahasiswa dimanjakan dengan suasana yang mendukung proses belajar. Belum lagi mereka yang ingin bernostalgia dengan gaya belajar para ulama terdahulu. Mereka, para ulama yang kini jasanya berbuah warisan manis– Al-Azhar juga belajar di masjid ini.

Aku dan Yaskur biasanya belajar mulai dari pagi sampai jam sepuluh malam. Kami biasanya pulang ke rumah untuk sarapan dan makan malam saja. Makan siang cukup dengan menikmati makanan khas Mesir Tha’miyyah bil baid dipadu kesegaran jus buah– ‘asyir  manggo. Kami selalu saling menyemangati satu sama lain, tak jarang kami bergantian menjaga untuk tidur siang yang hanya lima belas menit saja.

Alhamdulillah, sampai detik ini aku masih merasakan indahnya belajar di Al-Azhar. Kuliah dan ujian yang penuh tantangan, tekanan dan yang pasti keindahan. Nuansa religi yang terasa seperti membawaku pada masa kejayaan Al-Azhar dengan lahirnya ulama-ulama terkemuka. Di Indonesia saja banyak tokoh ternama jebolan universitas Islam tertua ini. Sebut saja KH. Musthofa bisyri yang akrab dipanggil Gus Mus, KH. DR. M. Quraish Shihab dan adiknya DR. Alwi Shihab juga alumni Al-Azhar. Bahkan yang menarik adalah (Alm) KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), presiden RI ke-4 ini adalah salah satu WNI Indonesia yang pernah belajar di Al-Azhar.

Masjid Al-Azhar, Kairo-Mesir.

Aku selalu berharap bisa menapaki jejak mereka yang dengan gigih memperjuangkan eksistensi Islam– agama yang dicintai. Dalam untaian do’a, aku selalu memohon untuk bisa memberikan manfaat besar bagi agama kuhusnya di tanah air. Mungkin bukan hanya aku yang berharap demikian, kawanku satu unversitas juga mengharapkan hal yang sama. Terlebih mereka, WNI yang belajar disini mayoritas mengambil jurusan keagaamaan. Untuk itu kami selalu saling mengingatkan akan peran yang kelak akan kami pikul bersama.

Mohon doa dari reken-rekanita pembaca untuk kelancaran dan keberkahan ujian kami disini.
Terimakasih… Jazakumullah khairan katsiran.