Tak banyak yang bisa kutulis. Alhamdulillah, ‘ala kuli haal ujian tadi pagi tak terlalu rumit. Tinggal bersiap dengan mata kuliah selanjutnya. Ada banyak hal yang harus dilakukan masa-masa ujian kali ini– persiapan fisik, mental dan tetek bengek peralatan ujian. Yang penting maksimalkan usaha dan doa.

Ada hal yang membuat hati ini tersentuh. Ketika aku masuk gerbang kampus, terlihat ada seorang gadis Mesir yang berparas khas arab. Kehadirannya tentu akan mencuri banyak perhatian. Bisa dibayangkan, diantara ratusan bahkan mungkin ribuan mahasiswa yang ujian hari ini ada seorang gadis Mesir yang dengan berani masuk kampus. Setelah diperhatikan ternyata dia menuntun seorang mahasiswa yang mungkin saudaranya.

Setelah kudekati ternyata mahasiswa yang digandeng gadis Mesir itu adalah kawan satu kelasku, Musthofa. Ia memang salah satu mahasiswa istimewa. Matanya tak melihat tapi ia selalu menatap cerahnya masa depan. Dengan gigih ia menjalankan tugasnya sebagai thalib. Jika yang berpenglihatan normal saja terkadang malas kuliah, ia hampir setiap hari kulihat datang pada saat muhadlarah.

Semula aku mengira ia tak akan mengikuti ujian, ternyatasemangatnya mengantarkan ia untuk mengikuti ujian walaupun dengan keterbatasan yang ia miliki. Bantuan gadis– saudarinya itu mungkin benar-benar dibutuhkan hingga gadis itu tak sungkan masuk ke kampus mahasiswa Al-Azhar.

Beberapa saat setelah kaki kuinjikana ditangga lantai tiga gedung fakultas ushuluddin, aku kembali terharu. Kali ini kulihat ada dua orang berkursi roda yang dibantu kawan-kawan kelasku untuk menaiki tangga. Mereka ini juga mau mengikuti ujian. Allahuakbar, sunguh mengharukan. Ditengah keterbatasan mereka masih punya impian yang sangat besar. Padahal satu diantara kedua pria di kursi roda itu (maaf) mengalami keterbelakangan mental.

Pelajaran yang benar-benar harus kuhayati sebagai ibrah agar selalu bersyukur dengan apa yang Allah berikan. Aku yang berfisik normal kadang tak tahu betapa bermanfaatnya semua organ tubuh yang Allah anugerahkan kepadaku. Tak perlu dipandu orang lain aku sudah bisa melihat dan membaca diktat sendiri, untuk berjalan pun aku tak perlu dipapah.

Rabbi Auzi’ni an Asykuraa ni’mataka allati an’amta ‘alayya wa ‘ala walidayya wa ‘an a’mala shalihan tardhahaa. Wa adkhilnii birahmatika fii ‘ibaadikash shalihiin. Aamiin.

Tiramisu 1
Kairo, 26 Mei 2012

Hamzan Musthofa