Sosok yang berwibawa dan penuh kharisma, aku rindu dibuatnya. Tak jarang aku merasa canggung, seperti pada orang lain. Menatap wajahmu saja aku harus memberanikan diri. Hingga kini aku benar-benar malu– padahal jika sudah mulai bicara engkau tampak seperti seorang sahabat yang senang berbagi. Aku benar-benar rindu…

Pribadi yang sayang suami dan mengabdi. Sesekali membantu bapak mengajar santri, salut! Aku tak banyak menginginkan sosok yang macam-macam untuk istriku kelak. Aku ingin yang seshalihah mamah. Adikku saja yang kuangap belum dewasa dengan teguh ia mengatakan bercita-cita ingin menjadai pribadi seperti mamah. Ya Allah, aku sangat merindukannya…

Bukti kasih tiga bidadari ini benar aku rasakan. Ketiganya tak henti membuat semangatku terus menggebu. Aku selalu menyempatkan berbicara meski dalam sebuah obrolan santai. Celotehmu membuatku beralasan untuk beralasan hidup dan tetap berkarya. Aa bangga pada kalian– Aa rindu kalian…

Banyolan khas yang membuat gelak tawa keluarga pecah– itulah sosok kakek yang semangatnya selalu muda. Sesekali beliau meminta buyut dariku– aku hanya melempar senyum sebagai bukti khidmat. Terimakasih untuk seluruh warisan termahal yang engkau berikan kek, hingga kehadiranku lengkap dengan sosok ibu bapak dan keluarga yang shalih-shalihah.

Nenek yang selalu meneteskan air mata kala aku mengukir cita. Inilah bukti doamu nek, aku kini sudah di bumi para Nabi. Aku selalu berharap doa tulusmu.Aku rindu nenek…

Mendiang kakek yang memotivasiku untuk menjadi ahli qiraat. Kalem-nya yang selalu aku rindukan. Kiai dengan segudang ilmu. Aku yakin bukan aku saja yang merindukanmu– disudut sana santri selalu berharap bisa kembali bersua di syurga-Nya. Allahummaghfirlahu warhamhu…

Aku juga tak akan melupakan sosok nenek dari bapak yang aku yakini selalu ada mendampingi langkahku– meski menatapnya pun aku tak pernah. Allahumaghfirlaha waj’alhaa min ahli al-firdaus. Amin.

Seluruh bibi dan pamanku yang dengan kehadiran kalian aku tetap bertahan. Kehadiran kalian mewarnai hidup ini menjadi lebih indah. Dari kalianlah lahir adik-adik kebanggaanku. Saudara yang tak tampak misan, penuh pengorbanan. Aku rindu kalian…

Guru-guruku yang dengan ilmunya aku bisa menjadi manusia. Aku tak tahu bagaimana membalas jasa setiap kata yang membuatku kembali ingin berkarya. Semoga Allah membalas perjuangan dan jasa-jasa baik yang diberikan. Aku rindu…

Keluarga besar yayasan– aku tak bisa menapikan peran kalian. Saudara-saudaraku yang berjuang keras untukNya. Para santri/ah yang dengan istiqamah menuntut ilmu dijalanNya.  Ibu bapak baruku di majlis ta’lim yang terus bertahan hingga usia senjanya. Dewan ta’mir masjid yang menjadikan islam tetap bergema di kampung kebangan kita. Allah-lah yang senantiasa bersama kalian.

Kamu yang mewarnai hari-hariku. Maaf untuk kata-kata terakhirku. Semoga kita sama-sama sukses– dengan fokus menjalani ujian kali ini. Kamu yang tetap maklum atas batasan Tuhan kita– semoga kita cepat halal. Kutitipkan rindu ini…

Sahabatku di tanah air. Aku terus memohon doa kalian. Semoga kita dipertemukan dengan keberhasilan seperti yang kita cita-citakan. Miss u all..

Bersama dengan ini aku titipkan rindu atas kalian. Yang tak bosan mendoakanku. Jazakumullah ahsanal jazaa….

Allahummaghfir lii dzunubii, wa liwaalidayya, wa liashaab al-hukuki al-waajibati ‘alayya, wa limasyaayikhina, wa lijamii’il muslimin wa al-muslimat– al-ahyaa-i minhum wal amwaat. Birahmatika Yaa Arhamar Raahimin. Aamiin…

Rindu yang kian terpatri

Kairo, 24 Mei 2012

Hamzan Musthofa.