Hari ini menjadi hari yang sangat menegangkan. Hari dimana mahasiswa Al-Azhar semester enam menjalani ujian lisan. Tak seperti biasanya, ujian lisan ini siperketat dengan pertanyaan yang benar-benar menguji. maklum saja, semua yang diuji sudah masuk penjurusan; yang masuk tafsir akan membuktikan kapasitasnya sebagai kader mufassir; yang masuk jurusan hadits akan dimintai pertanggungjawaban atas pilihan masuk jurusan hadits, begitupun jurusan lainnya.

Demikian halnya aku yang saat ini tercatat sebagai mahasiswa fakultas Ushuluddin jurusan Tafsir. Mau tak mau aku harus bisa membuktikan sekaligus mempertanggungjawabkan pilihan masuk jurusan tafsir ini. Materi ujian yang meliputi Al-Quran dan Tafsir analitik menuntutku untuk benar-benar fokus.

Parahnya, jam satu malam aku harus keluar rumah dan berdiam diri dihalaman masjid Sayidina Hussain. HAl ini dilakukan untuk sekedar menenangkan pikiran dan perasaan tegang yang memang sudah merasuk sejak awal sebelum ujian dilaksanakan. Malam hari itu aku merasa paling “gila’. Hampir semua orang menatapku penuh heran. Malam-malam baca Al-Quran di halaman Masjid, pemandangan yang jarang terjadi. Apalagi ini waktunya istirahat atau melakukan refreshing di kafe sekitar masjid.

Malam itu memang malam yang sulit kuisi dengan memejamkan mata. pikiran kalangkabut yang memaksaku untuk rela tak beristirahat. bukan hanya segan dengan penguji yang akan dihadapi, tapi ini merupakan awal yang benar-benar akan membuka jalan selanjutnya untuk menjadi mufassir.

***

Siang harinya, ujian itu segera dilaksanakan. Mahasiswa– hampir semuanya memeganng erat Al-Quran. saat memasuki ruang ujian kami kemali dikagetkan dengan kehadiran dosen tafsir yang pasti akan menguji. Seabrek doa sudah pasti terucap. Mulut tak berhenti berkomat-kamit membaca ajian (baca : doa) terampuh, hehe.

Akhirnya,…. (bersambung dulu ya….)🙂