Pagi itu aku bangun sebelum shubuh, berniat melaksanakan shalat berjamaah di masjid Sayyid Dardery. Ketika adzan berkumandang aku tak berlama-lama untuk segera berangkat ke masjid tersebut. Kali ini masjid nampak agak sepi, hanya terlihat seorang sayikh yang sudah berumur dan satu orang pemuda berkemaja lusuh. Aku tak terlalu menghiraukan keadaan, apalagi tuntutan untuk mempersiapkan ujian lisan lebih kuutamakan.

Biasanya aku tak buru-buru keluar, menyempatkan diri untuk mengulang hafalan atau sekedar membaca Al-Quran.  Memang masjid ini terbilang sepi, sangat cocok untuk aku manfaatkan sebagai tempat belajar. Namun, kali ini aku harus kecewa dengan kesem[patan yang tak lagi kurasa. Sang Imam memintaku segera keluar dari masjid tanpa alasan yang bisa menenangkan. Ia hanya mengatakan bahwasannya masjid akan dikunci. Sungguh siluar dugaan, aku  yang sudah sangat nyaman belajar haru keluar dan mencari tempat baru.

Tak mau mempermasalahkan hal itu, aku lantas bergegas ke masjid Sayyidina Hussain. Masjid yang selalu terbuka lebar. Sayangnya kali ini lebih banyak digunakan warga Mesir untuk beristirahat setelah shubuh. Padahal ada banyak hal yang bisa dilakukan semisal membaca Al-Quran atau hanya bermunajat.

Jam menunjukan pukul 09.00 clt. Aku kembali ke rumah dan sarapan pagi. Menu makanan yang menarik membuatku lahap dengan takaran yang lumayan besar. Mungkin karena terlalu kenyang, tak terasa mata ini tertutup dengan sendirinya. Untung saja aku sudah memasang alarm sebelum Jumatan supaya tak terlambat menyimak khutbah jumat.

Mandi– berpakaian rapi.  tak lupa menyemprotkan wangi-wangian khas jumat, hehe. Aku berjalan ke Masjid Qubbah el-Ghouri sambil menghafal Al-Quran yang akan diujikan esok hari. Sempat kecewa karena ternyata masjid itu masih terkunci, padahal sudah mendekati waktu jumatan.

Masjid Syaikh Shalih Ja’fari, tempatku mengikuti talaqqi Al-Quran bersama Syaikh Ashraf dulu menjadi pilihan untuk melaksanakan shalat jumat. Aku duduk dibarisan depan yang masih sepi. Sesekali perasaaanku disemangati dengan kehadiran para pria berpakaian serba putih. Kala itu memang sedang ada perayaan maulid Syaikh Shalih Ja’fari, Musrsyid tariqah Jafariyyah. Tak heran jikan banyak orang berdatangan kesini– bahkan mereka yang datang dari luar Kairo pun banyak yang datang.

Memegang erat Al-Quran dan duduk dibarisan paling depan, aku berusaha sekhusyu’ mungkin melafalkan Al-Quran. Tadinya aku berharap bisa fokus menghafal disini, namun konsentrasiku harus buyar dengan kehadiran seorang bapak asal Aswan yang sedang mengikuti pengajian tariqah di masjid Ja’fari. Mulanya aku merasa terganggu, namun perlahan aku mulai sadar bahwa silaturahmi juga tak kalah penting. Dengan berat hati aku menutup Al-Quran dan melayani obrolan hangat kenalan baruku itu.

Walau agak sulit diterima, namun aku berharap justru pria itulah yang mungkin menjadi washilah kemudahanku menghadapi ujian. Dengan berupaya meneguhkan hati aku yakin ialah yang doanya akan mustajab. Pria yang belakang aku ketahui bernama Musthofa Abd el-Naeem ini dengan penuh pengharapan mendoakanku tanpa kuminta. Ia merasa bahagia dengan kehadiran orang asing yang masih mau belajar Islam.

Tak henti-henti ia mengajakku bicara. Ngalor-ngidul obrolan lintas tema yang aku sendiri hanya banyak menyimak. Namun selalu kudengar selipan doa disetiap obrolan santainya itu. Semoga ia benar-benar menjadi washilah bagiku untuk mendapatkan taufikNya. Aamiin.