Masjid Sayyid Dardery begitu menenangkan hati. Masjid ini tak jauh dari rumahku– terkadang, untuk sekedar membaca ringan, aku lebih memilihnya daripada masjid Al-Azhar. Maklum, disini lebih sepi– aku akan dengan khusu’ melaksanakan aktifitasku.

“yallla yabniy, um lissholah” terdengar seorang tua renta memanggilku dengan suara yang berat. Aku bergegas menghampirinya lalu kupegang mic yang berada di masjid itu. Tanpa basa-basi aku segera mengumandangkan iqamah. Setelah shalat shubuh, pak tua yang menjadi imam menyalamiku. Ia tampak kagum karena aku mencium tangannya. Bukan tanpa alasan, ini kulakukan untuk menghormatinya, terlebih ia sudah kuanggap sebagai guru. Kami berdua dengan Al-Quran ditangan masing-masing. Jamaah yang lain satu-persatu meningalkan masjid.

Tak lama kemudian, Syaikh Hasan– imam masjid mendekatiku, ia berpamitan untuk meninggalkan masjid. Kini aku benar-benar sendiri. Aku berharap malaikat tetap setia menemani gerakan lisanku melantunkan ayat suci-Nya. Selain rutinitas yang harus dijalani, aku melakukannya karena ingin besua dengan Sang Maha Bijaksana. Aku tengah bingung, lantas kulakukan ini untuk melepas kegundahan yang terasa menjalar  ke tiap rongga tubuhku.

Semalam, apartemen sederhana ini kembali dihiasi hangatnya persaudaraan. Entah itu hanya obrolan lepas, curhat-curhatan, tak jarang kami lakukan dengan sebuah candaan. Apapun itu, aku yakin akan dapat menjadikan keluarga kecil ini tetap harmonis. Semuanya sudah benar-benar seperti keluarga. Kesamaan nasib menjadi alasan. Kami sama-sama merantau, mencari ilmu apalagi almamater kebanggaan ini selalu menjadi perekat hati kami, Al-Azhar menjadi ibu kami disini.

Nampaknya aku menjadi korban candaan malam ini. Status faceebok-ku sore tadi terbilang “kontroversi”. Hmm, padahal aku hanya manautkan status fanspage “7 keajaiban Rezeki” di profilku. Isinya :

Melamar kerja, itu biasa!

Melamar anak orang, nah itu baru luarbiasa!

Menikah itu memudahkan rezeki. Siaaaaap?

Mungkin mas Ippho yang menulis itu, atau… entahlah aku tak terlalu memusingkannya. Teman rumahku menjadikan statusku itu topik obrolan malam tadi. Aku merasa “terkucilkan”, semua tertawa lepas dengan keisenganku tadi sore. Tak apa, sedikitpun aku tidak sakit hati, aku malah merasa senang membuat temanku bahagia. Apalagi ini musim galau ditengah kesibukan ujian, tentu menjadi hiburan gratis yang tak menyita waktu.

Tiba saatnya untuk istirahat, kami masuk ke kamar masing-masing. Aku merebahkan badan di kasur sederhana. Terdengar salam dibalik pintu kamarku. Setelah kujawab, kulihat Hakim dengan senyum khasnya. Sembari mangankat tubuh agar kembali terbangun aku mempersilahkan Hakim masuk.

“Mas, aku gak ngerti maudhu yang ini” ia lantas membukakan sebuah buku, setelah aku minta, aku sedikit mengerutkan dahi. “lho kamu bawa madah tingkat satu?” tanyaku buru-buru. “ia Mas, hmmm… bantu jelasin ya Mas!” pintanya. Selesaikan kujelaskan sebisaku. Ia kemudian menundukkan kepala sambil tersenyum. Hakim berkata “baru faham aku mas, hehe”. Aku kembali merebahkan badan, Hakim tak keluar dulu. Dia malah membuka laptopku sambil nyengir “ikut buka fb ya Mas!”.

“Oiya Mas, maleys kalo tadi tersinggung, kita cuma becanda… lagian lagi ujian malah ngeshare status gituan– jadi diserang lah, hehe”  dia seolah mengungkit lagi candaan teman rumahku. Aku tak ambil pusing, ia juga tau, aku tak mungkin tersinggung apalagi marah. Ini hal biasa untuk membumbui kehangatan kekeluargaan. Hakim lantas menyambung cerita. “Mas Nizam bukannya udah nemu calon? Kok malah minta sayembara jodoh sih di komentar statusnya? Walah.. Si Mbak Hafiza bisa marah lho– kalo cemburu gimana hayooo?… hehe”. Jawabku ringan “aku belum khitbah Kim. Lagian itu kan iseng aja– biar gak terlalu serius, hmm”

diakui atau tidak. Aku jadi memikirkan ucapan Hakim. Selama ini memang tak ada ikatan resmi antara aku dengan Hafiza. Baik aku maupun Hafiza tak mau terbebani dengan ikatan yang bukan pernikahan. Walau demikian aku tak mau Hafiza berkecil hati dengan ucapan isengku di facebook. Tak bisa kupastikan ia membaca statusku atau tidak, hanya saja kekhawatiran Hakim menjadi buah pikiranku malam tadi.

Selalu kuharapkan ia paham dengan keputusan yang kami ambil bersama– keputusan untuk berkomiten tanpa sebuah ikatan. Alasanku agar tidak membebaninya mungkin sulit diterima. Tapi apapun yang kulakukan bukan tanpa sebab, apalagi untuk urusan masa depan aku tentu berpikir matang dan penuh pertimbangan. Aku berusaha meyakinkan diri– semuanya akan baik-baik saja. Sedikitpun tak ada reaksi apa-apa dari Fiza.

Semakin lama aku mengenalnya, semakin aku pahami. Ia benar-benar berpikir dewasa. Ia tak menuntut lebih– kami berusaha sebisa mungkin menitipkan harapan ini padaNya. Baik Fiza maupun aku belajar banyak dari pengalaman masa lalu. Ketika menggantungkan harapan pada yang bukan haknya. Aku semakin tenang, kendati tetap merasa takut kehilangan.

Dalam untaian doa aku selalu selipkan namanya agar kelak kami bisa bersatu. Aku yakin ia akan selalu menjaga perasaan ini. Pagi ini menjadi saksi kesungguhan harapku padaNya. Bahkan ketika semua harap itu tak terucap.

mudah2n bener2 bisa jadi novel atau sekedar antologi cerpen….🙂

Aslina ieu mah bohoooong… hehehe
#mengada-ngada dan berimajinasi ria… ( lho… beut jadi riweuh, hehe)

Kairo, 10 Mei 2012

Hamzan Musthofa