Belajar -dari- Komputer

أصبحنا وأصبح الملك لله، والحمد لله، لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير

ربِّ أسألك خير ما في هذا اليوم وخير ما بعده و أعوذ بك  من شر ما فيه و شر ما بعده

“اللهم بك أصبحنا وبك أمسينا وبك نحيا وبك نموت وإليك النشور”

Alhamdulillah, masih bisa menikmati pagi dengan secangkir teh manis. Sempat bingung dengan tumpukan agenda hari ini. Melihat tentatif yang terpaksa harus dipadatkan setelah melihat jadwal pertandingan persib yang akan tayang pada pukul 10.00  Clt.🙂 . Tanpa membiarkan diri ini lalai, tanganku ini kugerakkan kearah laptop yang nampaknya butuh pijatan refleksi😀 . On, dan layar widescreen dengan slide gambar “impianku” sebagai wallpapernya. Target nikah usia 27 tahun, selesaikan s2 tahun 2015; Bantu bapak ekspansi komplek pesantren dan lahan yayasan, dan masih banyak target yang silih berganti tampil dilayar laptop andalanku. Tak mau kehilangan kesempatan untuk bertafakkur, setiap detail laptop kuperhatikan dengan seksama.

Yang pertama kali kulihat adalah tombol power, dari bulatan keci ini aku belajar banyak. Kuamati bagaimana pancaran lampu kecilnya yang terus menyala membuktikan power yang terus mengalir sejak awal kunyalakan laptop. Meski sesekali terdengar suara bising dari bawah mesin, tandanya laptop sudah cukup lama dan kepanasan, lampu itu tetap menyala. Ia tetap komitmen dengan tugas yang harus dijalankan, ya! Power ini harus tetap mengalir agar laptop bisa dipakai. Nampaknya  power yang seperti ini pula yang harus menyala pada diri kita, tak sedikit pun meredup, bahkan disaat tubuh ini terbebani rasa lelah yang bisa mengikis semangat.

Setelah laptop menyala, layar windows tampil dan menyajikan permintaan untuk memasukkan password. Sengaja diproteksi agar bisa kupastikan datanya tetap aman. Hatiku kembali tergelitik. Andai manusia tak mau kalah dengan sistem yang ada pada laptop, mungkin tak ada lagi korupsi atau bentuk ketidak jujuran lainnya. Begitu komitmen dengan rahasia atau amanah yang diberikan. Kendati sang empunya menyalakannya, namun password yang dimasukkan salah, laptop tak mungkin bisa diakses. Subhanallah😉

Widescreen  kini telah menyala dan menampilkan wallpaper yang menarik. Kupikir bisa saja PC ini menawarkan seluruh aplikasi yang ada didalmanya sehingga aku tinggal klik dan masuk. Tapi apa yang terjadi? Secanggih apapun laptop ini, hanya ada menu drop up “start” yang siap diklik. Seluruh aplikasinya akan bisa dijalankan setelah masuk tombol mulai atau start yang menyajikan berbagai fitur. Betapa hidup ini harus dimulai. Sekalipun berbagai potensi atau sebut saja kelebihan pada diri, jika action-nya tidak dimulai maka tak akan ada hal bermakna yang bisa dilakukan.

Hatiku kembali tertegun dengan banyaknya aplikasi dan fitur yang bisa dimanfaatkan. Ya Rabbi, betapapun hamba ini bodoh, tapi sesekali hamba sadar betapa banyak nikmat yang Engkau anugerahkan pada hambaMu yang lemah ini. Kuncinya adalah pilihan yang sesuai kebutuhan. Layaknya fitur sebuah laptop, hidup ini hanya tinggal memilih– dan selanjutnya akan Ia bimbing untuk tetap melangsungkan hidup sesuai kebutuhan yang dipilih.

Pagi ini aplikasi yang kubutuhkan adalah microsoft OneNote, sebuah fitur layaknya diari. Masya Allah, didalam aplikasi ini masih banyak pilihan yang bisa dimanfaatkan. Daftar menu di toolbar seolah menegurku. merenung “Bahkan disebuah pilihan pun Tuhan tampilkan pilihan-pilihan penunjang lainnya”. Lagi-lagi kemudahan yang ditawarkan sesuai kebutuhan. Hanya butuh jemari yang tentu sangat mudah mengklik salah satu fitur di toolbar.

Selesai membuat sebuah catatan, aku berniat menyudahinya dengan mngklik panel exit. Astaghfirullah, hampir saja aku lupa menyimpan data yang kutulis, beruntung sang fitur mrngingatkanku dengan sebuah catatan kecil ” Do you want to save changes you made? “; kini aku tersenyum. Tak diragukan, manusia memang tempat salah dan lupa, tapi tak berarti dengan fitrahnya ini– lantas berbuat salah. Harus diingatkan! Dan manusia akan kembali tersadar untuk menentukan sebuah– bahkan beberapa pilihan hidupnya.

Keluar dari aplikasi– laptop tak lantas mati, berbagai pilihan kembali ditawarkan. Kendati tak ada lagi kebutuhan aku bermaksud menyudahinya dengan pijitan kecil di menu “shutdown”. Dan laptop kini mulai nonaktif, tapi kuyakin bukan mati untuk selamanya. Hanya proses istirahat yang harus dilewati, data dan berbagai fitur dipastikan akan tetap aman dan takkan hilang. Jika kita bijak, tentu tak akan berhenti dengan satu perjuangan saja, Tuhan anugerahkan istarahat untuk kembali memulai.

Subhanallah… Sungguh pelajaran hidup yang sangat berarti, semoga Engkau berkenan menerima syukur pagiku ini Ya Rabb. Syukur yang terlahir dari taffakur yang Engkau perintahkan dalam setiap sisi kehidupan manusia.

…Subhaanaka laa ‘ilma lanaa, illaa maa ‘allamtanaa Innaka antal ‘Aliimul Hakiim.

Kairo, 5 Mei 2012

Hamzan Musthofa