Kontroversial, kata pertama yang enak diucapkan untuk menggambarkan perannya yang dinilai ustadz. Berwibawa, kata ini pula patut bersandang padanya, dimata orang-orang seprofesi-bahkan semua orang yang mengenalinya. Saya bangga dengan sosok yang satu ini, identitas muslimnya tak pernah ia lupakan, karir yang ia rintis pun adalah bagian dari cara menegakan dien-Nya. Sekilas, tampak seperti seniman lainnya. Beda- sangat beda, ia punya berjuta potensi. Gayanya yang tak menonjolkan ke”ustadz”annya, lebihnya jauhnya lagi, orang sekitar jarang bahkan mungkin tak ada yang memanggilnya ustadz.

Selama ini kita menyebut ustadz bagi orang-orang yang ahli agama, di Jawa sebutannya Kiai atau Gus, di Sunda biasa dipanggil Aceng atau jika kita ke Banten mungkin Tubagus gelar yang hampir sejajar dengan Ustadz. Mengamati stylenya dipuluhan tahun kebelakang, hmmm, sangat unuk, tak jauh beda dengan orang-orang dipinggiran jalan, mungkin seperti itulah gaya jadulnya. Semakin kesini, ia tampak berpakaian cuek, dengan dada bidang yang sedikit terbuka karena kancing baju yang tak lengkap ia pasang. Bunglon, kata kasar yang bisa menggambarkan gayanya dari masa kemasa. Tapi, sosok yang pandai beradaptasi, agaknya lebih baik dari kata yang tadi, begitulah ia.

Bicara tentang ustadz, kini hampir semua orang tahu, terlebih dengan banyaknya ustadz-ustadz yang jadi public figur. Image seorang ustadz pun hampir semua orang bisa menggambarkan. Pakai peci dengan baju koko dan lidahnya mengeluarkan bunyi yang sejuk didengar, kalau bukan kalam Ilahi, sabda Nabi yang sering disampaikan. Sepakat, kendatipun ini hanya beberapa dari tanda-tanda keustadzan.

Sejauh ini memang sulit atau bahkan tidak ada lembaga khusus yang mencetak dan meluluskan seseorang sebagai ustadz, pesantren saja tak pernah mendeklarasikan diri untuk berkomitmen mencetak ustadz-ustadz. Disana diajarkan ilmu-ilmu spiritual, tepatnya mengenalkan manusia pada Sang Khalik.

Di Indonesia ustadz lebih lazim dinisbatkan pada mereka yang berpengetahuan luas dibidang agama. Mungkin lebih berbau religi atau bahkan bisa dikatakan makhluk Tuhan paling suci😉 . Sehingga tertutup kemungkinan ada ustadz dubidang lain yang tidak berkaitan dengan “dunia” agama.

Lebih sulit lagi ketika beranjak ke Mesir, disini tukang jual minuman dipanggil ustadz; yang berjualan fuul tho’miyyah juga seorang ustadz; mereka yang mengajar dikampus apalagi, ini yang sering dipanggil ustadz; yang lebih menarik adalah warga negara Indonesia yang biasa saling memanggil ustadz. Jadi apa sebenarnya ustadz itu?

Kata yang berasal dari bahasa Arab ini berarti pengajar; pendidik; guru besar universitas. Tak ada salahnya jika professor di universitas di Mesir biasa disebut ustadz. Lalu bagaimana dengan  ustadz yang ternyata adalah tukang jual minuman atau lebih parahnya lagi penjaga kafe. Oh, tunggu dulu, orang Mesir sangat suka bermujamalah; memperindah bahasa untuk menghormati. Bisa jadi panggilan itu hanya wujud penghormatan, tidak diletakkan pada makna yang sebenarnya. Kalaupun merasa keberatan dengan mujamalah tersebut, bolehlah sedikit berhusnudzan dengan memperluas kata pendidik. Hampir setiap pribadi bisa jadi pendidik bagi dirinya sendiri bahkan bagi orang lain.

Kembali lagi ke pertanyaan sesuai judul, predikat ini (baca : pendidik) juga yang ada pada sosoknya yang begitu ramah dan teguh pendirian. Ia tak mendidik didikannya dengan perantara tulisan, apalagi dengan kapur yang biasa tergores didepan peserta didik. Lebih dari itu ustadz yang satu ini juga jarang memakai atribut keustadzn seperti peci layaknya ustadz yang umum dan kita ketahui. Dia mengajak ummatnya dalam alunan nada yang mengandung pesan moral yang begitu kental. Mungkin ini juga yang menjadi alasan eksistensinya tak tergantikan. Ayat Al-Quran ataupun hadits Baginda ia lantunkan dengan saripati yang mudah dicerna dan tidak terkesan menggurui, sehingga lebih mengena ke telinga dan hati pendengarnya. Menelusur latar belakangnya, ternyata ia adalah santri jebolah pesantren di tatar priangan. Kepala pun kini mengangguk, pantas saja ilmu agamanya tak kalah saing, sekalipun dengan yang “mendeklarasikan diri” sebagai ustadz.

mendadak ustadz

Sebagai bentuk komparasi. Di Indonesia tak sedikit ustadz yang menjadi “korban” sang “pemegang kuasa” saat ini. Ya, dalam hal ini kekuatan pers. Liputannya di infotainment kiranya juga bisa melahirkan sosok ustadz-ustadz baru. Tak peduli ilmunya mapan atau tidak, yang terpenting gayanya sesuai dengan ciri keustadzan, entah itu berpeci atau beratribut lainnya. Inilah yang sebenarnya mengkhawatirkan, beruntung jika memang kapasitas keustadzannya itu sesuai dengan yang semestinya. Ketika tak sesuai, image ustadz sebagai “makhluk suci” pun bisa jadi mengikis.

Islam tentunya sangat bebangga dengan keteguhan hati para pejuangnya semisal ustadz. Tetapi, kualitas yang tercermin dari kapasitas ilmu pun tak kalah penting. Bukankan orang lebih banyak memilih kualitas dibanding kuantitas. Tanpa bermaksud merendahkan ustadz yang kini  berkeliaran.  Kiranya perlu diingat dan didalami kembali makna atau paling tidak penggunaan sebutan ustadz itu sendiri. Jangan sampai orang yang belum sesuai dengan predikat mulia itu dikukuhkan– lantas jadilah ustadz baru yang masih kurang ilmunya.

Tak ada gading yang tak retak. Mungkin ini jadi salah satu alasan yang seolah menafikan kesempurnaan manusia. Dalih tak ada manusia yang sempurna  janganlah terlalu dipatenkan jika sekiranya hanya akan mengikis motivasi untuk berupaya seoptimal mungkin memperbaiki diri menuju kesempurnaan.

Saya lebih eman dengan pribadi yang ilmunya mapan dibidang agama lantas bertugas layaknya ustadz– sekalipun tak disebut ustadz. Dahulukan substansi daripada hanya sebuah embel-embel atau titel  yang kurang sesuai. Bukankah hal ini yang semestiya kita harapkan sebagai pembimbing? Tentunya.

Semoga detik ini menjadi langkah awal untuk tegaknya Dienullah, Islam yang kita cintai. Bukan harapan berhasil mencaci, menghilangkan potensi pun bukan maksud hati. Tak lebih dari sebuah coretan yang mengajak berintrospeksi diri.

Kairo, 3 Mei 2012