Dari artikel yang dimuat dalam Andriewongso.com

Pakar perkembangan anak, Dr. Keith Osborn, mengatakan bahwa saat anak berusia nol sampai lima tahun, kecerdasannya berkembang sangat pesat. Selain itu, penelitian yang dilakukan Prof. Glenn Doman telah membuktikan bahwa bayi bisa belajar membaca. Bila diajar sejak usia dini, seorang bayi bisa membaca sebuah kata pada usia 1 tahun, sebuah kalimat pada usia 2 tahun, dan sebuah buku pada usia 3 tahun. Pendapat para pakar tersebut terbukti nyata dalam diri Heidi Hankins, seorang balita berusia 4 tahun. Kecerdasan Heidi bahkan jauh melampaui hasil penelitian Prof. Glenn Doman. Inilah prestasi cemerlang Heidi: – Berhitung sampai angka 40, membaca dan menggambar bentuk orang di usia 2 tahun. – Berhitung penambahan dan pengurangan di usia 3 tahun. – Memakai kata-kata seperti “impresif” dalam percakapan ketika usianya 4 tahun. Skor IQ rata-rata seorang dewasa adalah 100 dan seorang yang “berbakat” hanya 130-namun balita luar biasa ini begitu mengesankan karena memiliki skor IQ 159. Angka ini hanya satu poin di bawah skor IQ dua peneliti dan ilmuwan terkenal, yaitu Albert Einstein dan Stephen Hawking. Ayah Heidi, Dr Matthew Hankins yang berprofesi sebagai dosen bidang kesehatan masyarakat di University of Southampton, berpendapat, “Kami selalu berpikir Heidi sangat cerdas karena dia sudah membaca sejak usia sangat dini. Dan karena saya ingin tahu tentang IQ-nya, saya memberinya satu set lengkap buku Oxford Reading Tree ketika dia berusia dua tahun dan dia membacanya habis satu set sebanyak 30 jilid dalam waktu satu jam. Itu yang seharusnya dilakukan anak berusia 7 tahun.” Menurut Dr Matthew, Heidi selalu membuat suara-suara dan mencoba berbicara dengan jelas sejak lahir. Dan pada usia satu tahun, kosa katanya sudah cukup bagus. Apalagi sekarang, semakin bagus. “Di lain waktu, saya memberinya kentang tumbuk dan fishfinger untuk menu makan malam-makanan yang terlalu biasa-tapi responsnya ‘ini impresif’, itu berarti dia juga punya selera humor,” ujar Dr Matthew, yang berasal dari Winchester, Hampshire, Inggris seperti dilansir Thesun.co.uk pada Kamis (12/4/12). Menurut orangtuanya, Heidi tidak dewasa sebelum waktunya. “Ia hanyalah seorang anak belia yang menyukai boneka Barbie-nya dan permainan Lego. Tapi uniknya, Anda akan melihat dia duduk diam dan membaca sebuah buku. Kami sangat bangga padanya,” tutur sang ayah. “Heidi benar-benar berkembang lebih cepat daripada anak-anak lain secara akademis, artistik, dan fisik. Kami tidak mendorong Heidi sama sekali. Dia telah menguasai semuanya sendiri dan mengajarkan dirinya sendiri,” lanjut Dr Matthew. Heidi Hankins kini menjadi salah satu anggota termuda Mensa pada usia baru 4 tahun, organisasi dunia untuk orang-orang yang mempunyai IQ tinggi. John Stevenage, ketua eksekutif British Mensa, berkata: “Orangtua Heidi mengenali dengan benar bahwa putri mereka menunjukkan potensi yang luar biasa. Kami mendoakan mereka dan senang sekali karena mereka memilih bergabung dengan komunitas Mensa guna mendukung mereka. Kami memang bertujuan untuk menciptakan sebuah lingkungan positif bagi anak-anak belia untuk tumbuh kembangnya.”Kalau saja potensi ini imanfaatkan untuk menghafal Al-Quran, tentu banyak sekali terlahir ahli Quran yang menyelamatkan bangsa dari keterpurukan mental dan perilaku amoral yang selama ini menjadi ujian sebuah bangsa.