Kabar Bahagia dari Hafiza

Sapuan angin kencang menghempas wajahku, debupun melumuri wajah yang sedari dekat tampak letih. Peluh nampaknya tak begitu  kuhiraukan, hanya saja wajah kusam seolah membuktikan aku memaksakan menjaga semangat perjuangan. Kairo memang tengah mengalami musim panas pada puncaknya, namun, aku tak mau ini jadi alasan berhenti dari rutinitas yang harus  dilewati.

Selesai mengikuti sidang majister kakak kelas, aku bertolak ke sebuah warung kecil yang berada tak jauh dari kampus mahasiswa Al-Azhar,  akupun mengambil sebuah bungkusan kecil berisi roti khas Mesir. Untuk mengganjal perut yang kosong sejak pagi , rasanya ini lebih dari cukup.

Semangat mendalami ilmu tafsir yang menjadi hobi sejak kecil memang tak  pernah surut, entahlah, mungkin kesadaran akan peran dimasa depan, terlebih masyarakat sekitarku  mengidamkan kucuran ilmu yang  kubawa dari bumi para Nabi ini. Tak jarang aku menghadiri sidang Tesis atau Disertasi. Sekadar  memotivasi dan mencari tahu bagaimana kakak kelasku berhasil menggondol gelar dari universitas islam tertua ini.

Lepas menunaikan aktifitas di kampus, aku berjalan kearah mahattah bis di depan masjid Shalih Ja’fari. Dahi  kutahan dengan sedikit pijatan kecil, mungkin hal ini bisa menyegarkan kembali kepala yang terasa berat. Berjalan gontai menaikki satu persatu tangga “bis idaman” dengan tangan memegangi besi kecil dibelakang pintu bis, saat itu memang bis dalam keadaan kosong, aku duduk dipojok depan dan membuka Al-Quran, ini jadi alternatif lain untuk relaksasi tubuh yang tengah lelah.

Aku kini berdiri dengan tangan bergelayut diatas kepala, tangan kananku tak lantas melepaskan Al-Quran, meski berdesak-desakkan dengan penumpang yang lain, aku  berusaha khusu’ melafadzkan kalam Ilahi. Lesu barang tentu mengaliri sekujur tubuh, tak tega juga aku biarkan mahasiswi asal china itu berdiri berdesakkan dengan penumpang yang mayoritas pria, bukan hanya rasa tak tega, namun lebih dari itu aku  sadar dengan tulisan yang tertera dipojok atas bis, “makaan lissayyidaat wa dzaawil ihtiyajaat alkhoosoh”. Seolah menguatkan tekadku untuk sekadar memberikan kursi kepada yang lebih berhak. Mengutamakan kaum hawa dan yang punya kebutuhan khusus, tertera dihampir semua bagian depan bus.

Aku  lantas mengambil handuk kecil yang dikalungkan dileher, aku tiba dirumah lima belas menit yang lalu. Kali ini aku berada tepat didepan komputer sepulang dari Masjid Shahabah yang berdampingan dengan tempat  tinggalku. Sebagai seorang anak, aku merasa harus menghubungi orang tua yang sudah lama melayang-layang dibenak kerinduan.

“assalamu’alaikum”

“Wa alaikum salam”, terdegar suara tegas dari sound komputer yang sudah usang. Mungkin bapak yang kali ini akan bicara. Dengan akun yang dibeli dari teman kuliah, aku bisa berkomunikasi  via komputer.

Lama bercakap-cakap, diujung pembicaraanya aku tersenyum kaku,

“ah, pak sawios rada telat, pameng, abdi hoyong neraskeun heula kuliah s2, manawi bapa teu kaabotan” jawabku dalam bahasa sunda.

aku menyatakan penolakan dengan halus permintaan orang tuaku yang meminta agar aku segera menikah.

Kamipun bercanda ringan, Aku yang kini menjadi objek candaan.

“Cie… kang mau nikah dulu ya!”  teriak Rifat dari kamar sebelah. Tak lama kemudian terdengar suara yang membisiki seisi rumah dan tetangganya, “wah… siakang dijodohin euy! Mengurangi jumlah jomblo yang katanya sudah memenuhi 75% kawasan Mesir, haha”. Ditambah sahutan suara dari dapur, “kawin wes kawin bae mas’e, pengen liat mas Hamza sama mbak’e , hehe…”  teriak Ngainul yang sedang memasak ayam.

Suara teman serumah seperti memojokkan, tapi itu hanyalah sebuah candaan ringan untuk  menghangatkan suasana kekeluargaan. Selang beberapa menit, Hp-ku berdering. Kali ini ibu menelpon dari Indonesia. Tadi aku tak sempat berbicara dengan ibu yang mungkin sedang meninabobokan adik bungsuku.

Raut muka semringah bercampur senyuman renyah menempel diwajahku,  kembali dianjurkan untuk segera menikah.

Akhir-akhir ini keluarga sering menghubungiku, mereka berharap aku segera pulang dan menikah. Tak ada salahnya, aku sendiri kini sudah tingkat akhir, wajar saja jika orang tua menghadirkan topik pembicaraan tentang Nikah.  sebenarnya aku tidak menolak untuk dinikahkan. Permasalahannya, hanya belum melihat ada gadis yang sanggup mendampingiku kelak. Tak jarang aku mengeluhkan masalah asmara, teman-teman serumah selalu jadi tempat berbagi curahan hati. Ironinya, orang tuaku tak memberitahukan ada gadis yang dipandang cocok untuk putra tertuanya ini. Unik! aku selalu berhsnudhan.

“Ris, mungkin bapakku sudah punya calon buatku kali ya, bapak juga tak biasanya memintaku segera menikah”

” ya Mas, masa iya nawarin nikah tapi gak nyediain calonnya! Atau… tanya langsung saja Mas, biar gak penasaran”

“Nggak ah Ris, malu kalo  tanya langsung, mending kalo ada, kalo nggak ada gimana?”

“ya Fiza” tandas Haris sambil berjalan ke kamar mandi

Akupun  diam. Sejenak rumah menjadi hening, tak lama kemudian Haris keluar dari kamar mandi. Sambil tersenyum dia kembali membuka percakapan

“kenapa Mas, CLBK yo Mas?”

“Ah kamu ini ada-ada saja, uda hampir setaun  gak dapat kabar tentang Fiza, mana mungkin bersemi lagi” jelasku.

“Yaaaa. GR, siapa bilang bersemi kembali, yang ada juga Cinta Lama Belum Kesampaian” Guyon Haris sambil mengeringkan rambut dengan handuknya.

“Coba hubungi aja Mas, siapa tahu jodoh. Selesai kuliah langsung tancap gassssss”

Seperti tak menghiraukan saran Haris.

Dini hari sudah kulantunkan ayat suci, memang aku harus membiasakan tahajjud dan tadarrus. Menjelang subuh layar komputer menyala dan menampilkan pesan chat.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Hafiza, apa kabar?
Maaf, akang baru bisa menghubungi lagi.
Oiya, Ibu sudah sembuh?
 :D
 
Wa’alaikusalam Wr. Wb.
Wah… mimpi apa ya semalam. Dapet pesan dari orang Mesir.
Alhamdulillah kang,Fiza baik. Akang apa kabarnya?
Ibu juga sekarang uda sehat, uda bisa jalan lagi, syukran buat doanya ya Kang!
Doain juga, Fiza uda mau masuk semester 6 nih, lumayan rieut pokoknya mah, hehe
Betah amat di Mesir, ampe gak pulang2! Hehe
 
Alhamdulillah sae! Hehe
insyaAllah 3 bulan lagi akang pulang.
Sukses ya bu dokter!🙂
 
 

Memang bukan hal yang mudah memutuskan untuk menikah. Tapi, dengan ide dari Haris, setidaknya aku punya bayangan pada siapa ku akan menikah. Hafiza sendiri adalah adik kelasku semasa SMA dulu. Memang aku sempat jatuh cinta padanya, begitupun sebaliknya. Kami aktif di rohis sekolah, mungkin dari sana kami saling mengenal meski dalam batasan yang sempit.

Sering kuceritakan sosok mahasiswi kedokteran sebuah universitas di Bandung ini, sering pula berkomunikasi. Entah kenapa, belakangan ini kami merasa canggung, Bahkan setahun ini tak pernah lagi bertegur sapa.

***

Agustus kemarin aku pulang ke tanah air. Selesai mengenyam pendidikan strata satu aku berniat melanjutkan jenjang majister di Al-Azhar. Setelah merapikan masalah administrasi dan mengikuti seleksi masuk, tinggal menunggu hasil, baru selanjutnya kembali lagi ke Mesir jika lulus.

Hafiza – Hamza, kini silaturrahmi kami terjalin erat. Aku  semakin yakin Fiza-lah yang akan  kupersunting, orang tuaku  langsung merestui Fiza jadi mantunya. Tak bisa berpacaran,  rencananya aku akan langsung meminang Fiza, baik Fiza maupun keluarga sebenarnya tak tahu rencanaku ini. Memang aku niatkan ini sebagai Surprise untuk keluarganya dan sambutan hangat atas permintaan keluargaku.

Suatu hari, aku bersilaturrahmi ke rumah Bu Fatimah, ibunda Fiza. Saat itu Pak Ishak juga sedang dirumah, hanya saja Fiza tak sedang di rumah ibunya. Aku datang sendiri. Sengaja aku tak membawa keluarga, selain karena rencana lamaran yang ingin dibicarakan dulu, ayahku juga sedang ada urusan pengurusan badan wakaf pesantren.

Setelah hampir satu jam kami ngobrol, aku baru berani mengutarakan maskud kedatanganku, ingin memperistri Fiza. Pak Ishak melirik istrinya ketika aku menanyakan pendapatnya mengenai lamaranku ini. Mereka diam sejenak dan berusaha mengalihkan pembicaraan. Akupun mengerutkan dahi, sepertiya ada yang  dirahasiakan dariku. Kembali ku pertegas maksud kedatanganku. “sudahlah, bagaimana kalau besok lusa nak Hamza kesini lagi” aku tak bisa memaksa, sampai akhirnya kuputuskan untuk datang sesuai hari yang dijanjikan.

Aku hanya termenung heran dan berharap-harap cemas, apa mungkin mereka akan menolak lamaranku sehingga meraka tak langsung menjawab “ya” saat itu. Aku berusaha berhusnudzhan untuk mempertegar diri. Tak hanya itu, aku berusaha lebih meyakinkan keluarga dengan pilihanku. Ibuku senang sekali dengan sikap yang kuambil. Mungkin ibu ingin segera punya mantu dan cucu dariku.

Kamis sore aku pergi ke rumah pak Ishak, saat itu ibu juga sudah siap menyambut kedatanganku, lagi-lagi Fiza tidak ada dirumah. Padahal, aku ingin segera melihatnya langsung. Sejam lebih aku berbasa-basi, akhirnya aku kembali bertanya masalah itu. Ibu sepertinya merestui, terlebih, beliau juga tahu baik akau maupun Fiza juga sudah saling kenal dan merasa cocok sejak dahulu. Memang dulu aku berniat menikahinya, jadi tak heran jika ibu tampak begitu percaya dan merasa percaya denganku.

“Bagaimana bu, saya ingin memperistri Hafiza putri ibu?”

Senyum yang merona kini hilang dari wajah bu Fatimah dan berubah menjadi merah, matanyapun berkaca-kaca,

“Nak, ibu bukan tidak ingin mengangkatmu menjadi mantu, tapi…  Hafiza kini sudah… sudah menjadi istri orang lain”

Astaghfirullah, Aku kaget mendengar jawaban ini. Lebih-lebih dengan kehadiran Fiza menggendong bayi, buah dari pernikahannya dengan Irwan, suaminya. Belakangan ini aku tak melihat perubahan pada diri Fiza, bahkan ketika komunikasi sempat terhenti dan kemudian aku coba memulai kembali, ia masih menyambutku dengan sapaan hangat.

Pak Ishak yang sedari tadi menahan rasa sedih angkat bicara, “sebenarnya Fiza sudah menikah setahun yang lalu. Bapak, tak bisa menolak  nak Irwan yang sudah berniat baik untuk menikahi Fiza”

***

Aku memang tak bisa tegas dan meyakinkan keluarga Fiza jika sepulangnya dari Mesir aku akan mempersuntingnya. Saat itu aku beralasan dengan ketidak mapanan, banyak materi yang harus dipikirkan, apalagi aku tak begitu yakin dengan LDR, ya,  hubungan jarak jauh. Berat jika aku harus  belajar sendiri disana sementara Fiza di Bandung, rasanya tak seperti berumah tangga. Akhirnya kuputuskan untuk sedikit bersabar menunda perikahan. Akupun tak mau membahas nikah ditengah kuliah yang semakin menuntutku untuk terus fokus dengannya. Ironinya aku tak berusaha meyakinkan Fiza walau hanya dengan ucapan atau dengan lamaran. Maklum saat itu, kepalaku hanya memikirkan diktat yang serasa sangat berat. Belum lagi target lancar kuliah yang harus kupenuhi. Menyesal rasanya jika kuingat hal yang bisa kulakukan saat itu, Fiza lagi tak pernah memintaku untuk mengikatnya, ia hanya pernah bertanya kapan kita akan menikah, saat itu aku jawab dengan sedikit bergurau “santai, kalo jodoh nggak kemana… kita masih di Garut kok, hehe”.

Ah, Fiza tak memberitahuku ia akan menikah, tak juga mau berkompromi. Mungkin karena jengkel dengan ketidak tegasanku, belum lagi dengan kabar burung seputar perjodohanku yang tak sempat diklarifikasi. Dulu sempat ada selentingan aku akan dinikahkan dengan salah seorang santri bapakku. Terlalu dibesar-besarkan, kabarnya santriah yang akan kunikahi juga calon dokter, hafal Quran lagi, putri kiai lah, orang kaya lah, cantik lah. Entah siapa yang memfitnah dan berghibah.  Jelas ini akan membuat Fiza tersinggung, apalagi kalau dibanding-bandingkan, meski sama-sama calon dokter, Fiza baru menghafal 10 juz saja. Kontan Fiza tak mau berkomunikasi lagi sampai setahun lamanya, ia menghilang begitu saja, sampai akhirnya ia menikah dengan Irwan. Aku yakin tak hanya Fiza yang akan bersikap seperti itu, wanita lain pun akan sakit hati jika dibanding-bandingkan dengan yang lain, walau cara mengungkapkan rasa tersinggungnya berbeda. Terakhir kali ia juga sempat menyedakkan dadaku dengan perkataannya, “Fiza gak layak buat akang”. Tak jelas apa alasannya. Setelah itu ia menghilang begitu saja, hmmm, padahal belum sempat kubalas isi pesannya itu, jujur akupun kurang PD kalau harus berdampingan dengan gadis secantik dan sesantun Fiza, tapi aku sadar dengan cinta, kami bisa saling melengkapi dan menutupi satu sama lain.

Aku faham, wanita bukan hanya butuh cinta, tapi juga butuh ketegasan. Dia tahu aku mencintainya, bahkan sedari awal kami bertemu, tentu bukan waktu yang singkat, hampir lima tahun kami saling mengenal,  orang tuanya juga tahu bagaimana perasaanku pada Fiza, tapi itu tak cukup membuatnya yakin, sampai aku harus berkata  tegas AKU AKAN MENIKAHI PUTRI BAPAK BULAN DEPAN TANGGAL SEMBILAN. hehehe

 —- penggalan cerita dari Novel trilogi Butir Cinta Debu Sahara, Nantikan buku selengkapnya hanya ditoko terdekat, hehe —-