Rasanya baru saja kemarin menyelesaikan ujian termin pertama, kali ini ujian termin 2 sudah didepan mata. Banyak dosen yang sudah mulai membahas masalah pelaksanaan ujian. Tahun ini ujian termin 2 terbilang lebih cepat dan jaraknya tentu ekat dari termin awal, alasanya adalah pelaksanaan “intikhobat rois jumhuriyyah”, pemilu presiden yang pertama kali dilaksanakan secara langsung pasca revolusi Mesir, 25 Januari silam.

Yang tak kalah menarik, kaitanya denganku yang sudah tak muda lagi (sadar…) dan insyaAllah tak lami lagi segera kembali ke tanah air, kali ini usiaku memasuki fase sepertiga usia Rasul, tentunya tantangan tak lagi sedikit, banyak sekali hal yang harus kubenahi. Semester 6 ini menjadi masa yang menuntutku untuk lebih fokus dan tak bisa main-main. Disini mahasiswa banyak yang mengalami “kejenuhan” malum, untuk melanjutkan masih ada beberapa tahap yang harus dilalui, pun begitu juga jika mundur, tentu bukan hal yang tepat.  Materi kuliah yang sudah difokuskan pada bidang sesuai penjurusan, seperti azzam  pertamaku sebelum berangkat ke Mesir, aku ingin menjadi seorang mufassir/ahli Al-Quran. Kini, Alhamdulillah sudah bisa merasakan kursi panas jurusan tafsir.

Kredit yang tinggal 2 semester lagi tak boleh kusia-siakan, mudah-mudahan tahun depan adalah tahun terakhirku menenmpuh pendidikan formal untuk jenjang strata satu di universitas kebanggaan, Universitas Al-Azhar.

Rencananya ujian aka akan dilaksanakan pada tanggal 12 Mei, hmmm… sudah sangat dekat, fisik sudah harus benar-benar disiapkan, terlebih ujian kali ini tepat berada diawal musim panas, belum lagi serangan psikis karena tekanan yang begitu kesar, tak jarang ujian maratoh yang dilaksanakan hampir sebulan ini membuat mahasiswa sepertiku stress.

Tapi, ‘ala kulli haal, aku harus tetap  bersyukur. Karena walau bagaimanapun ini adalah kesempatan emas untuk membuktikan bahwa aku adalah manusia seutuhnya, lho.. Lantas yang tidak ujian  bukan manusia? Tentu bukan seperti itu, kami mahasiswa disini punya beban mental yang sangat besar dan bertanggung jawab langsung pada ummat, ini yang sering kali berat dirasa.

Alhamdulillah, meski belum semua diktat bisa dikuasai, paling tidak dosen di kampus sudah banyak mendoakan agar ujiannya lancar dan tentunya mendapatkan hasil yang iharapkan.

Panjang lebar ya? Intinya hanya ingin meminta doa dari pembaca (kalau ada) mudah-mudah ujian kali ni benar-benar bisa dilalui dengan lancar, yang terpenting senantiasa dalam ridhaNya, Aamiin. Jazakumullah.

Ditengah sunyinya malam di pojok kota Kairo,

_Hamzan_